Balasan Iran Hancurkan HIMARS AS di Kuwait, Memanas Pasar Energi!

Jakarta, Maret.id — Iran mengklaim telah membalas serangan Amerika Serikat dengan menyerang sistem peluncur rudal HIMARS yang diparkir di wilayah Kuwait pada Minggu (12/7/2026) waktu setempat.
Klaim Iran dan Bantahan AS
Pihak berwenang Iran menyatakan serangan drone menghancurkan sejumlah peluncur HIMARS dan menewaskan tiga perwira militer AS, serta melukai beberapa lainnya. Pernyataan tersebut kemudian dibantah oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) yang mengatakan tidak ada konfirmasi mengenai korban tewas di pihak Amerika Serikat.
Laporan Lapangan dan Aktivitas Militer
Sebelumnya, Washington dilaporkan melakukan serangkaian serangan terhadap sistem rudal dan pertahanan udara serta sasaran angkatan laut Iran di sekitar Selat Hormuz. Di sisi Iran, sejumlah rekaman yang disiarkan media lokal menampilkan ledakan dan kepulan asap di sekitar Pulau Qeshm, pulau terbesar Iran di Teluk Persia yang dikenal memiliki fungsi strategis untuk pertahanan pantai dan radar.
Kuwait: Konfirmasi Serangan Tanpa Pengakuan Target
Militer Kuwait membenarkan negaranya menjadi sasaran serangan yang menyebabkan kerusakan material namun tidak menjabarkan klaim tentang HIMARS atau korban militer asing. Pemerintah Kuwait melaporkan tiga pos perbatasan darat di utara mengalami serangan dan sebuah anjungan pengeboran lepas pantai yang dioperasikan oleh perusahaan minyak nasional terkena hantaman drone, yang mengakibatkan seorang pekerja terluka.
Beberapa pernyataan dari pihak Iran juga menyebutkan peluncuran rudal balistik menuju kawasan Al Mina dan lokasi yang disebut menampung sistem ATACMS milik AS, serta menyatakan bahwa aset militer Amerika di negara-negara Teluk lainnya menjadi sasaran dalam eskalasi hari itu. Klaim-klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh pengamat internasional.
Ketegangan di kawasan meningkat seiring insiden ini menyusul runtuhnya gencatan senjata sementara pada awal Juli, yang memicu gelombang serangan bolak-balik antara Washington dan Tehran. AS menuduh Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, sementara Iran menyatakan beberapa kapal tidak mematuhi instruksi saat melintasi selat tersebut; klaim penutupan permanen Selat Hormuz juga dibantah oleh pejabat AS.
Dampak potensial terhadap jalur pelayaran dan pasokan energi menjadi perhatian utama, mengingat Teluk Persia dan Selat Hormuz merupakan koridor penting bagi perdagangan minyak global. Sejumlah pengamat menilai aksi militer yang berkelanjutan berpotensi memperburuk stabilitas regional dan memicu reaksi diplomatik dari negara-negara yang memiliki kepentingan strategis di kawasan.
Situasi tetap dinamis dan berkembang, dengan klaim-klaim yang saling bertentangan antara pihak-pihak terkait dan konfirmasi independen yang masih terbatas. Redaksi akan terus mengikuti perkembangan dan memperbarui informasi seiring munculnya konfirmasi resmi dari otoritas terkait.





