Erma Susanti Dukung Hilirisasi Kopi untuk Kesejahteraan Petani

Jakarta, Maret.id — Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Erma Susanti, mendorong hilirisasi kopi di Kabupaten Blitar. Ia meminta petani dan generasi muda untuk tidak hanya menjual biji kopi, tetapi juga mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Erma menegaskan pentingnya pengolahan kopi yang lebih lanjut untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. “Petani jangan hanya berhenti menjual biji kopi atau hasil roasting. Anak-anak muda harus mampu mengolahnya menjadi produk siap saji dan membangun usaha sendiri,” tegas Erma saat membuka pelatihan barista di Joglo Omah Kopi, Desa Kemirigede, Kecamatan Kesamben.
Pelatihan ini merupakan kerjasama antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur dengan Pemerintah Kabupaten Blitar. Kegiatan ini dihadiri oleh 100 peserta dari berbagai kelompok tani di Kecamatan Wlingi, Doko, Kesamben, dan Selorejo.
Kegiatan ini dimulai dengan penyerahan bantuan alat roasting kopi untuk mendukung hilirisasi di tingkat desa. Erma mengakui bahwa Blitar memiliki potensi kopi berkualitas yang sudah diakui di tingkat nasional, tetapi kesejahteraan petani belum sepenuhnya terangkat.
Menurutnya, sebagian besar hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku. “Tren konsumsi kopi yang terus berkembang harus dimanfaatkan sebagai peluang bagi generasi muda untuk membangun usaha mandiri,” imbuh Erma.
Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan teknik meracik kopi, tetapi juga keterampilan roasting, penghitungan biaya produksi, penentuan harga jual, hingga strategi pemasaran. Politisi dari PDI Perjuangan ini juga mendukung pentingnya kelas perkopian di sekolah menengah kejuruan (SMK) di daerah yang dikenal sebagai sentra kopi.
Di sisi lain, Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar, Khusna Lindarti, menegaskan bahwa hilirisasi adalah kunci untuk meningkatkan daya saing kopi Blitar. “Produksi kopi yang melimpah harus diimbangi kemampuan mengolah hasil panen agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” ujarnya.
Khusna menambahkan bahwa jika kopi hanya dijual sebagai bahan mentah, nilai tambah yang diperoleh sangat terbatas. “Tetapi ketika diolah dan dipasarkan dalam berbagai produk, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar,” tuturnya.
Dengan pelatihan ini, Erma berharap generasi muda akan semakin termotivasi untuk membuka usaha berbasis kopi lokal. Tujuannya, petani tidak hanya berfungsi sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga dapat meraup manfaat ekonomi yang lebih besar di industri kopi yang terus berkembang.





