Saksi Hidup Kudatuli Trenggalek Jual Emas dan Mesin Demi Megawati

Jakarta, Maret.id — Para kader PDI Perjuangan di Kabupaten Trenggalek mengingat peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996, atau yang dikenal sebagai Tragedi Kudatuli, bukan sekadar sebuah catatan sejarah, tetapi sebagai memori perjuangan yang tak terlupakan. Beberapa kader senior masih merasakan langsung tantangan yang dihadapi saat bersama Megawati Soekarnoputri pada masa itu.
Gaguk Susilo Atmodjo, Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Suruh, merupakan salah satu saksi hidup dari peristiwa tersebut. Dalam peringatan 30 tahun Kudatuli di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek, Gaguk menceritakan perjalanan pahit yang dialaminya bersama kader-kader lainnya.
“Iya, saya merasakan sendiri peristiwa Kudatuli. Bukan hanya intimidasi oleh aparat penguasa saat itu, tetapi juga sudah mengarah ke fisik,” kata Gaguk saat membuka kisahnya.
Momen penting terjadi pada 24 Juli 1996, saat ia mengetahui adanya tekanan politik untuk memberangus PDI di bawah pimpinan Megawati. Tekanan ini muncul akibat dualisme partai, di mana PDI bentukan Ibu Mega berhadapan dengan PDI yang dibentuk pemerintah di bawah pimpinan Soerjadi.
“Artinya apa? Saat itu, PDI bentukan Ibu Mega harus dilenyapkan. Inilah yang mendorong kami bersama kader Trenggalek untuk membela,” sambung Gaguk.
Beberapa hari sebelum tragedi, Gaguk berangkat ke Jakarta bersama almarhum Akbar Abbas, Harjiyo, dan beberapa kader lainnya. Mereka bergabung dengan tokoh pergerakan dari Surabaya, seperti Bambang DH dan politisi Sutjipto.
Keputusan ini diambil meski mereka merasa waswas akibat intimidasi yang sering terjadi. “Dan itu berulang-ulang. Tetapi tak membuat kami gentar,” tegasnya.
Perjalanan ke Jakarta kala itu dilakukan dengan keberanian. Untuk membiayai perjalanan, para kader terpaksa melakukan penggalangan dana. Beberapa dari mereka bahkan menjual barang berharga demi membiayai ongkos.
Ketegangan sangat terasa di Jakarta. Bentrokan fisik terjadi, banyak korban yang jatuh, dan sejumlah aktivis hilang. Keluarga mereka baru merasa lega setelah kabar keselamatan para kader Trenggalek diterima.
Gaguk menegaskan tujuan kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan generasi muda tentang akar perjuangan partai. “Tetapi setidaknya inilah perjalanan partai. Bahwasanya PDI Perjuangan itu berangkat dari sejarah. Jangan sekali-kali lupakan sejarah,” pintanya dengan nada tegas.





