Politik

Pelarangan Film Pesta Babi Picu Respon Publik yang Meningkat!

Jakarta, Maret.id — Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menyatakan bahwa pelarangan karya seni justru dapat memperluas simpati publik terhadap narasi yang dibangun oleh lawan politik. Menurutnya, tindakan pelarangan tersebut berpotensi menimbulkan efek yang sebaliknya dari yang diharapkan, bahkan dalam era digital yang kini semakin maju.

Pelarangan Karya Cenderung Meningkatkan Popularitas

“Dalam era digital, sebuah film yang dilarang malah berpotensi menjadi viral dan mendapatkan legitimasi internasional yang lebih besar,” ujarnya. Fenomena ini, lanjut Amir, dapat dilihat sebagai strategi victimization propaganda, di mana kelompok tertentu tampil sebagai korban represi negara, sehingga mampu menarik dukungan publik yang lebih luas baik di dalam maupun luar negeri.

Oleh karena itu, Amir berpendapat bahwa strategi terbaik yang seharusnya diambil bukanlah pelarangan, melainkan melakukan kontra narasi secara cerdas dan sistematis. “Salah satunya melalui produksi film tandingan dan penguatan ekosistem budaya nasional,” jelas Amir. Menurutnya, narasi yang kuat harus dilawan dengan data dan karya budaya yang lebih berkualitas.

Menyerukan Narasi yang Kuat sebagai Tanggapan

Amir mendorong negara untuk hadir dalam membangun narasi sendiri alih-alih fokus pada sensor yang, menurutnya, justru bersifat kontraproduktif. “Kalau ada film propaganda, lawan dengan film. Lawan dengan data. Lawan dengan karya budaya yang lebih kuat,” imbuhnya. Ia percaya bahwa peran negara dalam mendukung industri perfilman sangat penting untuk menghadapi pengaruh negatif.

Di era globalisasi kini, industri perfilman dan konten digital dianggap sebagai arena perebutan pengaruh yang signifikan. Negara-negara besar memanfaatkan budaya populer untuk membentuk persepsi masyarakat dunia terhadap berbagai isu politik, konflik, dan legitimasi pemerintahan tertentu. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman terhadap dinamika geopolitik yang terjadi.

Film Sebagai Instrumen Geopolitik

Amir menekankan bahwa Indonesia tidak boleh memandang film hanya sebagai sarana hiburan belaka. “Film dapat menjadi instrumen geopolitik yang sangat efektif dalam mempengaruhi psikologi massa dan membentuk kesadaran politik generasi muda,” tegasnya. Dengan demikian, produksi konten yang mampu menyampaikan pesan yang kuat dan relevan sangatlah penting bagi perkembangan masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa di tengah gempuran informasi dan propaganda dari luar negeri, penting bagi Indonesia untuk mengedukasi masyarakat dalam hal literasi geopolitik. Dengan meningkatkan pemahaman rakyat mengenai isu-isu global dan bagaimana cara meresponsnya, diharapkan masyarakat dapat lebih kritis dalam menerima informasi.

Dalam pandangnya, langkah ini akan mendorong masyarakat untuk aktif berpartisipasi dan tidak menjadi korban dari informasi yang menyesatkan. Kesadaran akan pentingnya budaya dan seni sebagai alat komunikasi sekaligus pengaruh dalam geopolitik menjadi kunci bagi Indonesia untuk berperan aktif dalam percaturan global.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button