Korsel Lanjutkan Pembangunan Jalur Kereta ke Korut, Memanas Hubungan dan Guncang Perdagangan!

Jakarta, Maret.id — Korea Selatan mengumumkan rencana untuk melanjutkan pembangunan jalur kereta yang menghubungkan Seoul dengan kota Wonsan di bagian timur Korea Utara sebagai upaya menghidupkan kembali proyek yang terhenti selama lebih dari satu dekade.
Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan bahwa konstruksi dijadwalkan dimulai pada 2027 dan ditargetkan selesai pada 2029, sebagaimana dipaparkan dalam rapat dengan Presiden Yoon Suk-yeol.
Pembangunan Jalur Kereta dan Jadwal
Proyek rel lintas batas ini awalnya diluncurkan pada 2015 namun terhenti pada 2016 setelah hubungan antar-Korea mengalami pembekuan.
Pejabat kementerian menegaskan bahwa rencana pemulihan ini akan memerlukan perencanaan teknis, keamanan, dan koordinasi lintas batas yang intensif.
Latar Belakang Pembekuan Hubungan
Ketegangan antar-Korea kembali meningkat pada beberapa tahun terakhir sehingga mengganggu kelanjutan berbagai inisiatif kerja sama infrastruktur.
Pada 2024, Korea Utara melakukan pembongkaran terhadap infrastruktur jalan dan rel di sepanjang perbatasan yang semakin memperumit upaya normalisasi hubungan.
Rencana Kebijakan dan Perdamaian
Dalam pemaparan kebijakan, Kementerian Unifikasi juga menekankan fokus pada penyelesaian konflik secara damai serta pengelolaan krisis yang lebih baik.
Target jangka panjang yang dikemukakan mencakup upaya menuju Semenanjung Korea yang bebas senjata nuklir dan terciptanya perdamaian berkelanjutan di kawasan Asia Timur Laut.
Kementerian mengusulkan perubahan bahasa diplomatik dengan mengurangi penggunaan istilah yang menempatkan Korea Utara sebagai “musuh utama”.
Menurut kementerian, istilah tersebut dinilai tidak mendukung upaya membangun hubungan hidup berdampingan secara damai dan menghidupkan kembali kerja sama antar-Korea.
Rencana lain yang diangkat adalah menghidupkan kembali perjanjian pengurangan ketegangan militer yang pernah disepakati pada 2018.
Pemanfaatan Zona Demiliterisasi (DMZ) sebagai area dialog dan kerja sama juga menjadi bagian dari strategi untuk meredakan ketegangan.
Para analis menilai bahwa inisiatif rekonstruksi jalur kereta akan menghadapi tantangan besar apabila tidak ada kemajuan politik antara Pyongyang dan Seoul.
Kerja sama infrastruktur lintas batas memerlukan jaminan keamanan dan komitmen kedua belah pihak untuk melindungi staf, material, dan jalur yang dibangun.
Di tingkat regional, kebijakan ini bisa mempengaruhi dinamika antara Korea Selatan, Korea Utara, dan aktor utama lain seperti Tiongkok, Jepang, serta Amerika Serikat.
Perubahan pendekatan diplomasi Seoul terhadap Pyongyang berpotensi memicu pembicaraan baru soal pengurangan ketegangan dan mekanisme verifikasi terkait denuklirisasi.
Pemerintah Korea Selatan menegaskan bahwa langkah-langkah teknis, diplomatik, dan keamanan akan disiapkan secara bertahap sebelum pekerjaan fisik dimulai.
Pejabat kementerian berharap bahwa, jika dijalankan, proyek ini tidak hanya memperbaiki konektivitas transportasi tetapi juga membuka jalur dialog baru yang konstruktif.





