Politik

Strategi Bahlil Kejar Target Lifting 610 Ribu Barel Migas Harian

Jakarta, Maret.id — Target lifting minyak dan gas sebesar 610 ribu barel per hari (bph) yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto dianggap dapat tercapai melalui kebijakan yang sedang dijalankan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Pakar kebijakan publik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (FISIP Unpad), Bonti Wiradinata, menyampaikan bahwa target tersebut tidak hanya sekadar angka produksi. “Target 610.000 barel per hari pada RAPBN 2027 memiliki fungsi sebagai pertahanan dasar untuk menjaga daya tawar Indonesia di tengah volatilitas pasar global,” kata Bonti.

Ia menambahkan bahwa target tersebut memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan energi Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik. Bonti menilai langkah Kementerian ESDM dalam percepatan eksplorasi lapangan baru, optimalisasi lapangan eksisting, dan perbaikan iklim investasi adalah kombinasi kebijakan yang tepat. “Kombinasi tiga strategi tersebut dinilai tepat sasaran karena mengadopsi pendekatan intervensi kebijakan dalam menyelesaikan akar masalah penurunan produksi hulu migas,” tutur Bonti.

Lebih lanjut, Bonti menekankan pentingnya perbaikan iklim investasi mengingat eksplorasi hulu migas membutuhkan modal besar dan risiko tinggi. “Insentif fiskal, fleksibilitas skema kontrak hingga pemangkasan perizinan dapat meningkatkan daya tarik investasi hulu migas Indonesia,”imbuhnya.

Ia juga menyoroti pentingnya langkah Menteri Bahlil untuk meningkatkan lifting dan eksplorasi guna mengurangi ketergantungan impor. “Peningkatan produksi domestik tidak hanya penting untuk menjaga pasokan, tetapi juga dapat mengurangi tekanan impor di tengah ketidakpastian harga minyak dunia,” sambung Bonti.

Sementara itu, pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai bahwa target lifting 610 ribu bph menghadapi tantangan besar, khususnya terkait dengan kondisi cadangan minyak nasional. Menurut Fahmy, produksi minyak Indonesia historisnya berkisar 600 ribu bph dan cenderung mengalami penurunan.

Fahmy mengungkapkan bahwa situasi ini membuat upaya mempertahankan produksi minyak membutuhkan kerja ekstra. Ia membenarkan bahwa berbagai langkah sudah diambil untuk meningkatkan produksi, termasuk penggunaan teknologi dan optimalisasi sumur tua. “Selama setahun memang berbagai upaya dilakukan secara mati-matian…,” ungkap Fahmy.

Dia menekankan bahwa keberlanjutan langkah-langkah tersebut adalah kunci agar produksi yang telah dicapai dapat dipertahankan. “Jika upaya-upaya yang pernah dilakukan tidak dilanjutkan, sulit untuk mencapai peningkatan atau bahkan mempertahankan produksi sekitar 608 ribu barel per hari,” jelas Fahmy.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button