Dunia

WNI yang Terombang

Jakarta, Maret.id — Esau Sidemo, warga negara Indonesia asal Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, akhirnya dipulangkan ke Tanah Air setelah terombang-ambing di Samudera Pasifik selama 26 hari. Pemulangan itu difasilitasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Shanghai bekerja sama dengan pihak imigrasi China dan awak kapal pengangkut gas alam cair berbendera Prancis, LNG Endeavour.

Penemuan dan evakuasi

Esau ditemukan pada 1 Agustus 2026 oleh awak kapal LNG Endeavour yang sedang melakukan pelayaran dari Australia menuju Shanghai. Saat kapal mendekat, Esau melompat dari perahunya dan menerima bantuan pelampung sebelum dievakuasi ke atas kapal.

Kru kapal kemudian memungkinkan Esau untuk menghubungi keluarganya di Ternate melalui telepon seluler yang tersedia di kapal. Kondisi Esau saat ditemukan lemah namun sadar, dan petugas kapal segera melakukan koordinasi awal untuk langkah selanjutnya.

Kisah bertahan hidup di laut

Peristiwa bermula ketika Esau, yang berusia 57 tahun, pergi memancing pada 6 Juli 2026 menggunakan perahu milik saudaranya seperti kegiatan sehari-hari. Pada saat melaut ia tidak membawa ponsel dan perahu mengalami kerusakan sehingga terbawa arus menjauhi daratan.

Esau tidak membawa persediaan makanan yang memadai dan hanya memiliki sekitar satu liter air mineral saat perahunya mulai mengapung tanpa kendali. Selama 26 hari ia bertahan hidup dengan menangkap ikan dan burung serta memanfaatkan air hujan untuk minum.

Koordinasi konsuler dan proses pemulangan

KJRI Shanghai menerima laporan mengenai penemuan tersebut dan berkoordinasi dengan pihak imigrasi China serta otoritas terkait agar proses administrasi dan repatriasi dapat berjalan lancar, kata Konsul Muda Protokol dan Konsuler KJRI Shanghai, Batara Yonathan. Pihak Basarnas juga meminta kapal untuk bekerja sama dengan perwakilan Indonesia di Shanghai agar Esau dapat segera dipulangkan.

Setelah proses administrasi diselesaikan, Esau diberangkatkan dari Bandara Internasional Shanghai Pudong menuju Jakarta pada 14 Agustus 2026 untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke kampung halamannya. Rangkaian koordinasi ini memungkinkan keluarga di Ternate menerima Esau kembali setelah sempat khawatir dan berpikir yang terburuk.

Respons keluarga dan harapan keselamatan

Keluarga Esau sebelumnya sudah melaporkan kasus hilangnya ia saat melaut kepada aparat setempat sehingga operasi pencarian sempat dilakukan namun tidak membuahkan hasil hingga akhir Juli. Setelah kabar penemuan tiba, suasana berubah menjadi kelegaan karena Esau dapat kembali berkumpul dengan orang-orang terdekatnya.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya keselamatan pelayaran kecil dan akses komunikasi untuk nelayan tradisional, sekaligus menunjukkan peran penting kerja sama konsuler dan bantuan antarnegara di laut. Pihak keluarga berharap pengalaman ini mendorong peningkatan sosialisasi keselamatan dan kesiapsiagaan bagi masyarakat pesisir.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button