BNPB Didorong Audit Distribusi Bantuan Gempa NTT Secara Menyeluruh

Jakarta, Maret.id — Komisi VIII DPR mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk segera melakukan audit terhadap rantai distribusi bantuan bagi pengungsi korban gempa bumi berkekuatan 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Langkah ini dianggap penting agar bantuan tidak hanya tersimpan di gudang atau posko, tetapi juga sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Namun, sejumlah pengungsi melaporkan bahwa mereka belum menerima bantuan meski distribusi dilakukan secara reguler.
“BNPB harus segera melakukan audit mata rantai distribusi untuk mempercepat sekaligus memastikan bantuan tepat sasaran,” tegas Mahdalena, Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PKB.
Mahdalena menjelaskan bahwa audit distribusi diperlukan untuk memetakan secara jelas daerah dan kelompok pengungsi yang telah dan belum menerima bantuan. Selain itu, audit penting untuk memastikan bahwa bantuan sesuai dengan kebutuhan korban di setiap lokasi.
Menurutnya, dalam situasi bencana, masalah tidak hanya terletak pada jumlah bantuan yang tersedia, tetapi juga bagaimana bantuan tersebut didistribusikan dan siapa penerimanya. “Tidak boleh ada wilayah yang terlewat atau korban yang tidak terdata, sementara di tempat lain bantuan justru menumpuk,” imbuh Mahdalena.
Ia menambahkan bahwa audit harus menjadi dasar untuk memperbaiki distribusi bantuan secara cepat. Jika ditemukan daerah yang belum mendapatkan bantuan, pemerintah perlu segera menambah pasokan sesuai kebutuhan. “Para pengungsi sudah kehilangan banyak hal akibat bencana, jangan sampai mereka merasa berjuang sendirian untuk bangkit,” kata Mahdalena.
Legislator asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menyadari bahwa kondisi geografis dan medan yang sulit di beberapa wilayah menjadi kendala dalam distribusi bantuan. Meski begitu, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengurangi upaya menjangkau korban.
“Pemerintah harus memastikan tidak ada pengungsi yang tertinggal hanya karena lokasi mereka jauh dari posko utama atau akses transportasinya sulit,” sambung Mahdalena.
Di lokasi pengungsian seperti Desa Riung, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, NTT, beberapa korban mengeluhkan bahwa mereka belum menerima bantuan meski truk pengangkut bantuan melewati wilayah mereka setiap hari.
Sementara itu, warga yang tinggal di pusat pengungsian juga mengeluhkan bahwa bantuan yang diterima masih belum memadai. “Kebutuhan kelompok khusus seperti anak-anak, perempuan, penyandang disabilitas, lanjut usia, serta ibu hamil dan menyusui juga harus mendapatkan perhatian khusus,” tutup Mahdalena.





