Politik

Mbah No, Pemulung 73 Tahun, Ditangkap di Tengah Rongsokan PDIP Jatim

Jakarta, Maret.id — Dalam sebuah upacara penurunan bendera untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Suwarno, pria berusia 73 tahun yang dikenal dengan sebutan Mbah No, menghentikan aktivitasnya sebagai pemulung.

Ia berdiri tegak di Lapangan Untung Suropati, Banyuwangi, sambil memberikan penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih. Momen menghormat ini menjadi viral di media sosial setelah diabadikan dalam video.

“Dari seorang pemulung kita belajar apa arti cinta tanah air yang sesungguhnya,” kata Gus Ilham, menanggapi tindakan Mbah No.

Mbah No bukan peserta upacara formal, tetapi sikapnya menunjukkan suatu bentuk nasionalisme yang tulus. Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, MH Said Abdullah, memberikan tali asih kepada Mbah No sebagai bentuk penghargaan atas tindakan tersebut.

Pertemuan ini berlangsung di kediaman Mbah No di Desa Tambakrejo, Kecamatan Muncar, bersama Kepala Desa Tambakrejo Alfen Efendi. Mbah No mengungkapkan bahwa ia telah menjadi simpatisan PNI dan PDI sejak muda dan terinspirasi oleh ajaran Bung Karno.

“Sampek gepeng melu Banteng!” ucapnya. Mbah No, meski hidup dalam kesederhanaan, menunjukkan kesetiaan yang mendalam terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Ia mengais barang bekas setiap harinya, bukan semata-mata untuk mencari nafkah tetapi juga dengan semangat kebangsaan yang tinggi. “Ini bukti bahwa nasionalisme tidak memandang status sosial,” imbuh Gus Ilham, menggarisbawahi pesan moral dari tindakan Mbah No.

Tindakannya menghormati bendera negara, tanpa hiruk pikuk atau sorakan, mengingatkan banyak orang tentang pentingnya menghargai simbol-simbol negara. Dalam kesederhanaannya, Mbah No berdiri tegak, tidak peduli apakah banyak yang melihat atau ada kamera yang merekam.

Kisah Mbah No menjelaskan bahwa cinta tanah air sering kali tidak terlihat dalam upacara megah, tetapi justru hadir dalam tindakan sehari-hari dari mereka yang hidup di pinggiran. “Apa yang telah beliau lakukan merupakan tamparan keras untuk kita semua,” ujar Gus Ilham, mengingatkan masyarakat yang hidup dalam keadaan lebih beruntung untuk lebih menghargai nilai-nilai nasionalisme.

Dengan pakaian yang lusuh dan karung berisi barang bekas, Mbah No mencerminkan bahwa penghormatan pada Merah Putih tidak dapat diukur dengan materi. Bahkan dalam kesederhanaannya, ia membawa pulang pesan yang berharga bagi masyarakat: bahwa nasionalisme sejati melampaui status sosial dan penampilan.

Mbah No mungkin akan kembali melanjutkan pekerjaannya setelah memberi hormat. Namun hari itu, momen penghormatan terhadap bendera negara telah meninggalkan warisan lebih dari sekadar barang rongsokan. Ini adalah pengingat bahwa cinta tanah air masih hidup, bahkan di tempat-tempat yang sering kali terabaikan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button