Politik

Cerita Risma tentang Upaya Baguna Selamatkan Anak Gempa NTT

Jakarta, Maret.id — Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana, Tri Rismaharini, memimpin aksi tanggap darurat untuk warga terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Daerah tersebut kini menghadapi tantangan geografis berat dan ancaman krisis pangan.

Sejak ditugaskan pada 16 Agustus 2026, bantuan logistik dan kesehatan terus diupayakan. Fokus utama saat ini adalah menjangkau wilayah terisolasi di pegunungan.

Warga setempat masih mengalami trauma akibat ribuan gempa susulan yang terjadi setiap 15 hingga 30 menit. Proses evakuasi dan distribusi bantuan sangat bergantung pada penyisiran rumah ke rumah.

“Jika kondisi geografisnya sangat menantang, kami pernah berjalan 8 hingga 10 jam hanya untuk mencapai satu rumah,” kata Risma. Dia menyebutkan pernah menemukan anak dengan patah tulang berat di lokasi terpencil.

Di samping bencana gempa, Kabupaten Ngada juga mengalami serangan hama tikus yang menyebabkan gagal panen. “Hasil pertanian warga hanya tinggal 25 persen,” sabung Risma.

Partai juga mengirimkan tenda untuk pengungsi yang sebelumnya hanya bergantung pada terpal terbuka. “Kami ingin melindungi mereka dari cuaca dingin di malam hari,” tuturnya.

Untuk mendukung layanan medis, partai mengirim Kapal Laksamana Malahayati yang membawa sepuluh dokter. Kloter pertama telah diberangkatkan pada 20 Agustus 2026 untuk memperkuat pelayanan bagi pengungsi.

“Ibu Ketua Umum memerintahkan agar bantuan khusus disiapkan untuk perempuan dan anak-anak, termasuk kebutuhan ibu hamil,” imbuh Risma.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menambahkan bahwa koordinasi bantuan gelombang ketiga sedang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan spesifik di lokasi bencana.

Ia memastikan semua jajaran partai, termasuk Ganjar Pranowo dan Ribka Tjiptaning, bergerak serentak sesuai instruksi Megawati Soekarnoputri. “Kami menerima permintaan khusus untuk susu bagi bayi-bayi prematur,” kata Hasto.

Berdasarkan data BNPB hingga 23 Agustus 2026, bencana gempa M7.7 di Nusa Tenggara Timur telah menewaskan 87 orang. Sebanyak 1.298 orang terluka, dengan 336 di antaranya mengalami luka berat, serta 150.576 jiwa tersebar di berbagai posko darurat. Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur merupakan wilayah terparah terdampak.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button