Dari Menak Sopal ke Kebaya Fatmawati, Cerita Yeni di Panggung Nasional

Jakarta, Maret.id — Nama Trenggalek kini mencuat di panggung nasional berkat prestasi seorang perempuan, Yeni Purwati.
Yeni berasal dari Desa Karangan, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.
Pada malam Kompetisi Desain Kebaya dan Kerudung Fatmawati Trophy Regional Jawa Timur di Hotel Vasa Surabaya, karya desainnya terpilih sebagai salah satu dari tiga terbaik.
Pencapaian ini menjadi tiket bagi Yeni untuk membawa nama Jawa Timur ke tingkat nasional.
“Alhamdulillah, perjuangan yang sia-sia. Prestasi ini juga berkat dukungan warga Trenggalek. Mudah-mudahan Trenggalek semakin harum namanya,” ujar Yeni.
Namun, kemenangan ini lebih dari sekadar estetika desain.
Yeni mengisahkan cerita tentang Trenggalek, sejarah, dan budaya yang menginspirasi karya tersebut.
Desain yang diberi nama Fatmawati Menak Sopal Trenggalek ini mengaitkan sosok Fatmawati Soekarno dengan kekayaan budaya daerahnya.
Fatmawati dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, sementara Menak Sopal berhubungan erat dengan sejarah Trenggalek.
“Sosok Menak Sopal bagi warga Trenggalek adalah tokoh yang dihormati kala itu,” tegas Yeni.
Bagi masyarakat setempat, Menak Sopal bukanlah sekadar mitos.
Ia menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan wilayah Trenggalek.
Integrasi nama Menak Sopal ke dalam desain kebaya bertujuan untuk mengekspresikan identitas dan kebanggaan daerah.
Yeni menekankan bahwa budaya lokal dapat menyatu dengan desain modern.
Dalam proses kreatifnya yang hanya memakan waktu tiga minggu, Yeni menyalurkan ketelitian dan penjiwaannya.
Setiap detil pada kebaya harus memiliki makna.
Kebaya tersebut dilengkapi dengan motif bunga Sopal dan visual ombak Laut Selatan, menciptakan kesatuan yang menceritakan kisah Trenggalek.
“Desain kebaya menggambarkan sosok yang anggun dan potensi yang ada di Trenggalek,” tutur Yeni.
Bagi Yeni, kebaya ini menjadi lebih dari sekadar busana.
Ia berharap karya tersebut dapat mengenalkan Trenggalek ke kancah nasional.
Proses penciptaan ini bukan tanpa tantangan, termasuk saat Yeni merasa terharu mengetahui bahwa ia membawa nama Fatmawati Soekarno.
“Bangga, bagi kami Ibu Fatmawati dan Ibu Megawati Soekarnoputri adalah panutan dan teladan dalam bermasyarakat,” kata Yeni dengan nada penuh emosi.
Selaku Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek, Yeni hadir tidak hanya membawa identitas organisasi, tetapi juga identitas daerah.
Ia merasakan bahwa keikutsertaannya dalam kompetisi ini memberikan makna tersendiri untuk Trenggalek.
Karya-karya lain dalam kompetisi juga memiliki nilai masing-masing, namun Yeni percaya diri akan karyanya.
Kini, tantangan baru menanti di tingkat nasional.
Meskipun persaingan semakin ketat, Yeni yakin bahwa kisah Trenggalek dapat bersinar di mata publik.
Karya kebaya ini membawa pesan tentang Menak Sopal, alam, budaya, dan peranan perempuan dalam sejarah bangsa.
Kebaya bukan hanya soal gelar juara, tetapi juga cara Trenggalek menceritakan identitasnya.
Dengan pembukaan kesempatan berbicara di panggung nasional, Yeni telah memberikan kontribusi berarti dalam memperkenalkan Trenggalek.





