Xi Jinping Paparkan 4 Prinsip Perdamaian Palestina, Memanas Ketegangan Regional!

Jakarta, Maret.id — Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan kembali komitmen negaranya untuk mendukung penyelesaian konflik Palestina yang menjadi inti persoalan di Timur Tengah saat menggelar pertemuan bilateral dengan Raja Yordania Abdullah II bin Al Hussein di Beijing pada Senin (24/8/2026). Pertemuan kedua pemimpin berlangsung di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk mengatasi krisis kemanusiaan dan menghidupkan kembali proses perdamaian yang mandek.
Empat Prinsip untuk Perdamaian
Xi menyampaikan empat prinsip utama yang diyakini dapat mendorong perdamaian berkelanjutan di kawasan tersebut. Prinsip pertama menegaskan perlunya penegakan penyelesaian politik yang nyata, dengan arah solusi dua negara sebagai landasan yang harus ditempuh.
Kedaulatan Pascakonflik dan Rekonstruksi
Prinsip kedua berfokus pada kedaulatan tata kelola pascakonflik, termasuk penegasan bahwa “Palestina mengatur Palestina” dalam pengelolaan Tepi Barat. Pernyataan itu juga menekankan pentingnya kepemimpinan Palestina dalam proses rekonstruksi di Jalur Gaza setelah konflik mereda.
Perlindungan Kemanusiaan dan Peran Dewan Keamanan
Dalam prinsip ketiga, Xi meminta komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk memikul tanggung jawab konkret dalam melindungi keselamatan warga sipil. Dia juga menyoroti urgensi memastikan kelancaran jalur bantuan kemanusiaan guna menghentikan krisis yang terus berlangsung.
Keadilan Internasional dan Penyelesaian Menyeluruh
Prinsip keempat menekankan penegakan keadilan dan kesetaraan berdasarkan hukum internasional sebagai prasyarat penyelesaian konflik yang berkesinambungan. Xi mendorong agar penanganan diarahkan pada akar masalah, bukan sekadar meredam gejala, sehingga solusi yang dihasilkan bersifat komprehensif, adil, dan permanen.
Pembicaraan di Beijing juga mencerminkan kepentingan kedua negara dalam stabilitas regional, mengingat posisi strategis Yordania sebagai tetangga dan mediator penting dalam isu Palestina. Raja Abdullah II hadir dalam pertemuan yang menandai hubungan kedua negara yang terus diperdalam seiring dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Para pengamat menilai pernyataan Xi akan menambah tekanan diplomatik untuk menghidupkan kembali perundingan antara Palestina dan Israel, meski jalan menuju kesepakatan tetap penuh hambatan. Situasi lapangan, termasuk blokade, penghancuran infrastruktur, dan krisis kemanusiaan di Gaza dan beberapa wilayah Tepi Barat, menjadi tantangan signifikan bagi proses perdamaian.
Langkah-langkah praktis seperti pembukaan koridor bantuan, jaminan keamanan bagi warga sipil, dan dukungan internasional untuk rekonstruksi dinilai perlu diaplikasikan bersamaan dengan kerangka politik. Para pihak yang berkepentingan diharapkan menerjemahkan prinsip-prinsip yang diutarakan menjadi tindakan nyata agar upaya menuju solusi dua negara dapat kembali berjalan.
Pertemuan ini berlangsung di tengah sorotan global terhadap perlunya tindakan kolektif untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan mengurangi penderitaan warga sipil. Dengan memaparkan empat prinsip tersebut, Tiongkok menegaskan posisi diplomatiknya sebagai salah satu aktor yang mendorong penyelesaian politik dalam konflik panjang ini.





