Politik

Budi Arie Diterpa Ribuan Komentar Negatif Terkait Makar

Jakarta, Maret.id — Pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang memperkirakan percepatan pergantian kepemimpinan nasional sebelum Pemilu 2029, mendapatkan kritikan tajam dari publik.

Manuver Budi Arie yang mengemukakan skenario tersebut dilakukan di hadapan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Hal ini dianggap tidak etis dan berpotensi memicu kegaduhan politik di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas nasional.

Dalam forum diskusi itu, Budi Arie mempertanyakan kesiapan masyarakat terhadap kemungkinan suksesi yang lebih awal. “Saya bisikkan ke Pak Jokowi, Pak kok insting saya ini lebih cepat dari 29 (Pilpres 2029). Apakah kita mau? Belum tentu kita mau,” ujar Budi Arie yang kemudian direspons audiens dengan seruan “siap.”

Pantauan di kolom komentar Instagram RMOL menunjukkan bahwa mayoritas warganet memberikan respons negatif. Banyak yang menilai wacana tersebut tidak memiliki urgensi bagi kepentingan rakyat dan terkesan hanya menghitung kalkulasi kekuasaan sempit.

“Bukannya mendoakan pemerintahan yang sah bekerja sampai akhir masa jabatan, ini malah sibuk merancang spekulasi yang bikin guncang situasi politik,” tulis akun Ahmad Syaifuddin di komentar.

Akun Rizky Pratama juga mengkritik etika berpolitik Budi Arie dengan menyoroti fokus masyarakat yang seharusnya pada isu ekonomi. “Kenapa elite relawan malah melempar isu adu domba begini? Sangat tidak bijak,” kritiknya.

Beberapa pengguna menilai pernyataan Budi Arie sebagai bagian dari upaya makar, mengingat kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang sah baru akan berakhir pada 2029. “Apakah hal seperti ini bisa disebut makar secara halus?” tulis Aryo Dwiputranto.

Akun resmi Instagram Partai Gerindra juga menggunggah komentar dengan menggunakan emotikon bingung. Hingga berita ini diterbitkan, pernyataan Budi Arie telah dikomentari lebih dari 3.200 warganet dan dilihat lebih dari 374 ribu kali.

Kritik warganet ini sejalan dengan pandangan sejumlah akademisi. Mereka mendesak para pimpinan organisasi relawan dan elite politik untuk menghentikan narasi yang memicu benturan.

Dr. Teguh Santosa, mantan Wakil Rektor Universitas Bung Karno, menyebut spekulasi tentang percepatan kepemimpinan ini sebagai tindakan tidak etis dan tidak bermanfaat.

Pernyataan Budi Arie terkait kesiapan pendukung Joko Widodo juga dianggap berpotensi membahayakan stabilitas nasional. “Pernyataan tersebut jelas-jelas merupakan hasutan politik yang berpotensi membelah konsentrasi publik,” tutup Teguh Santosa.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button