Politik

Politik Kebangsaan: NU Berkontribusi untuk Kemanusiaan

Jakarta, Maret.id — Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, mengemukakan gagasan tentang arah masa depan NU yang berlandaskan adab, karakter, persaudaraan, dan profesionalisme.

Gus Kikin menegaskan bahwa jabatan di NU adalah amanah, bukan tujuan. “Kepemimpinan harus dijalankan dengan tanggung jawab dan ketulusan pengabdian,” sambung Gus Kikin.

Ia juga menjelaskan bahwa pencalonannya sebagai calon Ketua Umum PBNU adalah amanah organisasi, bukan ambisi pribadi. “Jabatan itu amanah. Tidak boleh terlalu ambisi terhadap jabatan,” tegasnya dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu malam, 26 Agustus 2026.

Menurutnya, NU harus tetap berpegang pada Qanun Asasi sebagai pedoman organisasi dan menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dalam kehidupan NU. Ia mendorong NU untuk menjadi organisasi yang beradab dan mampu menyamakan pandangan dalam memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

Gus Kikin menekankan bahwa NU tidak seharusnya terjebak dalam politik praktis. Namun, ia menegaskan peran strategis NU dalam kehidupan kebangsaan sebagai kekuatan masyarakat sipil yang menjaga persatuan dan memperjuangkan kemanusiaan. “NU tidak bisa lepas dari politik, namun agendanya politik kebangsaan dan kemanusiaan,” ungkapnya.

Dalam menghadapi tantangan lima tahun ke depan, Gus Kikin menilai NU harus mampu menjadi rumah bagi seluruh warganya. Diharapkannya, NU memiliki kekuatan kelembagaan dan intelektual serta memiliki hati.

Ia menambahkan bahwa pembangunan manusia harus mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ia berpendapat bahwa kecerdasan intelektual perlu berjalan seiring dengan karakter dan kepedulian.

Di tengah tantangan global dan berbagai persoalan sosial, Gus Kikin menyatakan bahwa NU juga dituntut untuk membangun resiliensi. “NU harus mempunyai hati. Kita harus memperkuat dan mengasah hati kita,” ujarnya.

Gus Kikin juga menekankan pentingnya melahirkan generasi muta’allim, yakni generasi pembelajar yang cerdas dan siap menghadapi tantangan global. “Kita harus mempunyai intelegensia, tetapi intelektual itu harus dibungkus dengan adab,” tegasnya.

Gagasan Gus Kikin tentang NU ini menempatkan organisasi tersebut bukan hanya sebagai lembaga keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial dengan tanggung jawab dalam kehidupan kebangsaan. “Adab menjadi fondasi, ilmu menjadi kekuatan, persaudaraan menjadi perekat, profesionalisme menjadi cara kerja, dan politik kebangsaan menjadi ruang pengabdian NU bagi kemanusiaan dan Indonesia,” tutupnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button