Korban tewas 389 orang di Nepal memanas persaingan bantuan, ancam ekonomi regional!

Jakarta, Maret.id — Korban tewas akibat banjir bandang dan longsor di Nepal dilaporkan meningkat menjadi 389 orang menurut data yang dipublikasikan kepolisian Nepal dan dikonfirmasi oleh media setempat. Sementara itu, korban yang mengalami luka-luka tercatat sebanyak 466 orang.
Distrik Chitwan tercatat memiliki jumlah korban tewas tertinggi dengan 137 orang yang dilaporkan tewas atau dievakuasi dari wilayah tersebut. Nawalparasi Timur mencatat angka korban tewas terbanyak kedua dengan 87 orang.
Korban tewas juga dilaporkan ditemukan di beberapa distrik lain termasuk Dhading, Gorkha, Nuwakot, Tanahun, Nawalparasi Barat, dan Rasuwa. Skala kerusakan dan dampak terhadap infrastruktur di wilayah-wilayah ini masih dalam proses pendataan oleh pihak berwenang.
Operasi penyelamatan dan pencarian
Sebanyak 8.348 personel kepolisian dikerahkan untuk operasi penyelamatan dan pelayanan darurat di daerah-daerah terdampak. Hingga laporan terakhir, 18 personel kepolisian masih berstatus hilang dan tim penyelamat terus melakukan pencarian di lokasi-lokasi rawan.
Pihak berwenang menyatakan operasi pencarian dan bantuan darurat masih diintensifkan untuk menjangkau korban yang terisolasi dan memastikan pasokan kebutuhan dasar di wilayah terdampak. Evakuasi dan penanganan medis bagi korban luka menjadi prioritas utama dalam respons darurat saat ini.
Kronologi dan lokasi kejadian
Banjir bandang dan longsor terjadi pada Rabu pagi, 26 Agustus, waktu setempat dan melanda kawasan perbatasan antara Nepal dan China. Banjir yang berasal dari sisi Nepal dilaporkan menghantam gerbang perbatasan Gyirong Port di wilayah Gyirong, Tibet, China.
Dampak lintas-batas ini menyebabkan kondisi tanggap darurat yang melibatkan otoritas setempat di kedua sisi perbatasan, sementara rincian dampak di wilayah Tibet belum dijelaskan secara rinci oleh pihak berwenang Tiongkok. Kondisi akses dan transportasi di sekitar gerbang perbatasan diperkirakan terganggu akibat endapan lumpur dan material longsoran.
Wilayah Nepal rentan terhadap longsor dan banjir selama musim monsun yang berlangsung antara Juni hingga September, sehingga kejadian seperti ini kerap terjadi setiap tahun. Penanganan dan mitigasi bencana tetap menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dan pusat mengingat topografi pegunungan serta intensitas curah hujan yang tinggi.
Kebutuhan bantuan darurat di lapangan meliputi evakuasi penduduk, perawatan medis, suplai makanan dan air bersih, serta perbaikan akses jalan yang terputus. Koordinasi antarinstansi keamanan, kesehatan, dan badan penanggulangan bencana menjadi kunci untuk mempercepat respons dan menurunkan risiko korban tambahan.
Jumlah korban dan kondisi di lapangan masih berpotensi berubah seiring berlanjutnya operasi pencarian dan pendataan di wilayah terdampak. Pihak kepolisian Nepal berjanji akan terus memberikan pembaruan resmi mengenai perkembangan jumlah korban dan upaya penanganan bencana dalam beberapa hari mendatang.





