Filosofi Tombak Korowelang: Pemimpin Harus Ngopeni Rakyat

Jakarta, Maret.id — Dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek, puluhan pusaka menjalani prosesi jamasan. Acara ini lebih dari sekedar ritual; di baliknya tersimpan filosofi mengenai tanggung jawab pemimpin kepada rakyat.
Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, menegaskan pentingnya filosofi Tombak Korowelang yang menyampaikan pesan inti bagi pemimpin. “Pemimpin harus menyelesaikan persoalan rakyat dan memberikan teladan,” ujar Doding.
Prosesi jamasan berlangsung di Pendapa Manggala Praja Nugraha dan dipimpin oleh tokoh spiritual pada Sabtu (29/8/2026). Bupati Mochamad Nur Arifin dan Doding Rahmadi turut berpartisipasi dalam pembersihan pusaka-pusaka yang diwariskan secara turun-temurun.
Acara yang disertai harum kemenyan dan bunga ini memfokuskan pada pembersihan berbagai benda pusaka, termasuk keris dan tombak. Beberapa pusaka yang dijamasi juga merupakan milik pribadi bupati dan diberikan oleh tokoh-tokoh penting, termasuk pusaka dari Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Di antara pusaka yang dikenal ada Songsong Ayomsih, Tombak Kyai Wignyomurti, dan beberapa lainnya yang mempunyai makna sejarah yang mendalam bagi masyarakat. “Jamasan adalah tradisi yang harus dijaga agar tetap hidup dan bermakna,” tutur Bupati Arifin.
Doding Rahmadi menambahkan bahwa jamasan pusaka merupakan bagian dari pelestarian budaya. “Kekayaan budaya ini melibatkan tidak hanya pemerintah, tetapi juga partisipasi masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap pusaka memiliki filosofi mendalam. Filosofi Tombak Korowelang, misalnya, mengingatkan bahwa pemimpin harus memperhatikan dua hal penting: menyelesaikan persoalan rakyat dan memberikan teladan melalui pendidikan yang baik.
“Perkara rakyat adalah tugas pemimpin. Welang berarti piwulang; pemimpin harus memberi contoh yang baik,” pungkas Doding. Dalam konteks ini, pelestarian pusaka juga berarti merawat nilai-nilai yang dapat membimbing masyarakat ke arah lebih baik.
Prosesi jamasan menjadi momen penting bagi Kabupaten Trenggalek untuk kembali mengenang akar sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan oleh para leluhur.





