Politik

Presiden PKS Ajak Fasilitator Muda Dorong Perubahan Sosial

Jakarta, Maret.id — Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berkomitmen untuk memberdayakan pemuda sebagai penggerak perubahan dalam masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Presiden PKS Almuzzammil Yusuf saat membuka pelatihan Training for Youth Facilitator (TYF) di Jakarta pada Senin, 31 Agustus 2026.

Almuzzammil menekankan pentingnya peran pemuda dalam menghadapi perubahan zaman. Ia menyatakan, “Pemuda selalu menjadi ujung tombak perubahan dari masa ke masa,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti kontribusi generasi muda dalam sejarah Islam dan perjalanan bangsa Indonesia. “Banyak sahabat Rasulullah SAW yang berkontribusi sejak usia muda, dan semangat ini terlihat dalam peristiwa Sumpah Pemuda,” tegas Almuzzammil.

Ia berharap generasi muda PKS dapat mewarisi semangat tersebut dan berkomitmen untuk menjadi individu yang beriman dan cerdas. “Kita ingin melahirkan pemuda yang sesuai dengan semangat konstitusi kita,” kata Almuzzammil.

Almuzzammil juga mengingatkan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, terutama di era digital. “Setiap orang kini memiliki ruang untuk menjadi influencer dan membentuk opini publik,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa dibutuhkan fasilitator yang mampu membimbing dan memberikan ruang untuk ekspresi anak muda. “Para fasilitator ini harus menumbuhkan pemuda menjadi taman seribu bunga,” sambung Almuzzammil.

Ketua DPP PKS Bidang Kepemudaan, Aang Kunaifi, menyatakan bahwa pelatihan TYF dirancang untuk menciptakan lebih banyak fasilitator muda. “Fasilitator harus menjadi sahabat dan teman bagi anak muda, terutama di basis sosial PKS,” ungkap Aang.

Aang menjelaskan bahwa proses kaderisasi memiliki dua aspek penting, yakni rekrutmen dan retensi. “Mengajak anak muda bergabung baru merupakan langkah awal,” tuturnya.

Selanjutnya, tantangan utama adalah memastikan anak muda merasa nyaman dan mendapatkan ruang untuk berkembang. “Semakin banyak bergabung, semakin banyak fasilitator yang dibutuhkan,” tegas Aang.

Ia berharap program TYF dapat menjadi katalisator bagi DPW PKS di seluruh Indonesia untuk mengadakan pelatihan serupa. “Ekosistem fasilitator muda perlu diperluas agar mampu menjangkau lebih banyak generasi muda,” ujar Aang.

“Melalui TYF, kita ingin memastikan kedekatan dengan anak muda tidak berhenti pada kegiatan seremonial,” imbuhnya, “tetapi diwujudkan melalui pendampingan yang konsisten dan ruang aktualisasi yang terbuka.”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button