Kasus Keracunan MBG Meluas, Kepala BGN Mengaku Terpukul

Jakarta, Maret.id — Kepala Badan Gerakan Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan bahwa lembaganya akan terus berupaya melakukan pembenahan meskipun tengah menghadapi tantangan besar. Hal itu disampaikan usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Kamis, 3 September 2026.
Sudaryono menjelaskan bahwa BGN, sebagai lembaga yang masih baru, sedang melakukan perbaikan menyeluruh dalam aspek sumber daya manusia, sistem, regulasi, dan pengawasan. “BGN ini kan adalah lembaga baru, dipimpin oleh pemimpin yang sebelumnya. Kemudian tindakan mohon maaf koruptifnya ini, sebagaimana saya laporkan di dalam tadi, kan ini kemudian nular. Nah, kami ini sedang coba beres-beres, bersih-bersih dengan SDM yang ada, dan so far berjalan dengan baik,” ujar Sudaryono.
Proses pembenahan itu sudah berlangsung sekitar sebulan, tetapi BGN kini dihadapkan pada masalah baru terkait kasus keracunan makanan di berbagai daerah. “Tapi kemudian di atas itu semua, tiba-tiba ada keracunan makanan, itu kemudian kami aduh, cukup… sangat prihatin dan drop, ya,” tuturnya.
Sudaryono menekankan bahwa kasus keracunan ini menjadi tantangan yang serius bagi BGN untuk memastikan pelaksanaan program memenuhi standar keamanan pangan. Berdasarkan evaluasi internal BGN, mayoritas kasus keracunan diduga disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP). “Kami tadi udah jelaskan juga di dalam, dari kasus keracunan yang ada itu kalau kita breakdown, itu 80-90 persen tuh karena tidak taat SOP,” tegasnya.
Ketidakpatuhan tersebut terjadi dalam berbagai tahapan, mulai dari penyimpanan makanan hingga pengaturan suhu dan batas waktu konsumsi. “Tidak taat SOP penyimpanan, tidak taat SOP pada saat dia penerimaan barang, tidak taat SOP terkait suhu dan waktu konsumsi, waktu konsumsi, batas konsumsi waktu, dan seterusnya. Itu mayoritas itu,” imbuh Sudaryono.
Untuk mencegah kejadian serupa, BGN telah melakukan penyesuaian dalam sistem pengawasan di dapur program. Salah satu langkah yang diambil adalah memberlakukan jam kerja Kepala Dapur dan Pengawas Gizi pada dini hari serta sore hari. Sudaryono menyatakan, “So far dengan kami berlakukan jam kerjanya Kepala Dapur dan Pengawas Gizi di dini hari dan di sore hari, itu kemudian so far kemarin cukup landai selama tiga minggu.”
Namun, dalam beberapa hari terakhir, kembali muncul laporan kasus keracunan di beberapa lokasi, termasuk di Sidoarjo dan Rembang. “Kemudian kita di beberapa hari terakhir ini kemudian tersebar berita adanya keracunan di Sidoarjo, di Agam, kemudian tadi di mana di Lasem di Rembang ya,” sambungnya.
Kondisi ini menambah beban bagi BGN. “Ini tentu saja kami sangat terpukul sebetulnya. Tapi ini dan kami tidak boleh menyerah,” tegas Sudaryono. Ia menambahkan bahwa lembaganya akan terus melakukan pembenahan di berbagai aspek penyelenggaraan program, termasuk tata kelola dan sistem keuangan. “Insya Allah ini kami kita perbaiki semua tata kelolanya, aturannya, flow-flow penataan keuangannya, dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Pada saat yang sama, kasus keracunan terus bermunculan. Sekitar 500 santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, mengalami keracunan pada Senin, 1 September 2026. Kasus serupa kemudian terjadi di SMAN 1 Lasem, Rembang, pada Kamis, 3 September 2026, dengan jumlah korban mencapai 725 orang.





