Pemimpin Israel Berlomba Ekstrem, Memanas Ketegangan Regional dan Guncang Pasar Global!

Jakarta, Maret.id — Persaingan politik di Israel semakin memanas menjelang pemilu, dengan sejumlah pemimpin berlomba menunjukkan sikap paling keras terhadap Palestina. Penguatan retorika dan kebijakan yang condong ke kanan dinilai oleh aktivis sebagai upaya untuk menarik dukungan pemilih sayap kanan.
Persaingan Memperkuat Sayap Kanan
Alon-Lee Green, pendiri dan salah satu direktur kelompok aktivis Palestina-Yahudi Standing Together, menyatakan persaingan politik kini makin mengarah pada perebutan suara di basis konservatif. Ia menilai para kandidat dan partai berlomba menampilkan kebijakan-kebijakan yang lebih keras demi memantapkan posisi di mata pemilih sayap kanan.
Kritik Terhadap Itamar Ben-Gvir
Green mengkritik pendekatan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang dianggap menggunakan narasi keamanan melalui kekerasan sebagai bagian dari tawaran politiknya. Menurut Green, upaya itu mengklaim bahwa lebih banyak tindakan keras dan korban nyawa akan menghasilkan keamanan bagi warga Yahudi Israel, klaim yang dinilainya keliru dan berbahaya.
Green menegaskan bahwa strategi tersebut justru berpotensi memperburuk situasi keamanan di wilayah yang sudah tegang. “Dia berbohong. Kita hanya akan mendapatkan lebih banyak kekerasan,” kata Green, menyoroti kontradiksi antara janji keamanan dan realitas eskalasi konflik.
Dampak Terhadap Keamanan dan Kebijakan
Aktivis itu memperingatkan bahwa pergeseran politik ke kanan dapat membuat kebijakan keras terhadap Palestina terus dipertahankan bahkan setelah pemilu. Akibatnya, peluang untuk perubahan kebijakan yang mengedepankan dialog dan perlindungan hak sipil dipandang semakin kecil.
Green juga memperingatkan bahwa tidak hanya pemerintah yang berisiko mempertahankan pendekatan ini, melainkan pula sejumlah tokoh oposisi yang mencoba menandingi dengan menampilkan sikap yang sama keras atau bahkan lebih ekstrem. Kondisi ini menurutnya mendorong homogenisasi kebijakan di spektrum politik utama, sehingga ruang untuk alternatif moderat menyempit.
Kelompok Standing Together sendiri bekerja lintas komunitas, menggabungkan aktivis Palestina dan Yahudi yang memperjuangkan perdamaian serta hak asasi. Green mengatakan peran organisasi semacam ini menjadi semakin penting untuk mengangkat suara yang menolak kekerasan dan menyerukan solusi politik yang lebih manusiawi.
Para pengamat menilai bahwa dinamika kampanye yang mengutamakan retorika keras juga dapat memengaruhi citra internasional Israel dan respons dari komunitas global. Tekanan domestik dan internasional dapat saling berinteraksi, namun menurut Green fokus pada keamanan semata tanpa langkah pencegahan kekerasan justru memperparah krisis.
Menjelang hari pemilihan, perhatian publik terhadap arah kebijakan pemerintah berikutnya semakin meningkat, terutama terkait bagaimana hak dan keselamatan warga sipil akan dijaga. Green menyerukan agar warga dan pemimpin politik mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari normalisasi kekerasan dalam politik kampanye.





