Politik

Menanti Satrio Piningit dalam Konteks Politik Indonesia

Jakarta, Maret.id — Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi pada Minggu pagi, 6 September 2026. Tinggi kolom abu yang teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak.

Budayawan Romo Edi Purwanto menjelaskan bahwa dalam mitologi Jawa, erupsi gunung bukan hanya fenomena geologis. Ia menegaskan bahwa ini juga melambangkan ketidakharmonisan kosmis, kemarahan kekuatan gaib, atau tanda zaman yang akan datang.

“Seperti datangnya goro-goro,” sambung Romo Edi. Ia menambahkan bahwa urutan erupsi gunung sering kali dihubungkan dengan memudarnya legitimasi penguasa. Hal ini juga mencerminkan hilangnya keselarasan moral manusia dengan alam.

“Artinya diidentikkan dengan masa kekacauan sebelum babak atau tatanan zaman baru dimulai,” tegas Romo Edi. Ia merujuk pada figur Satrio Piningit yang digambarkan akan muncul dari lereng Gunung Slamet untuk memimpin era baru di Nusantara.

“Sebab Keraton Api hanya sebagai tanda. Gunung Slamet berfungsi sebagai simbol adanya kebaikan yang melahirkan Satrio Piningit,” tambahnya.

Romo Edi memperkirakan bahwa suasana panas akan menyelimuti negeri ini ke depannya. Keributan dan konflik berpotensi meningkat dalam situasi ini.

“Manusia mudah terpancing emosi, dan perselisihan cenderung diselesaikan melalui tindakan fisik,” ujar Romo Edi.

Dari sudut pandangnya, persaingan politik akan menjadi lebih tajam, dengan perebutan kekuasaan dan konflik intrik yang tak terhindarkan.

Ia juga berpandangan bahwa ritme ketegangan ini akan meningkat hingga akhirnya mereda kembali. “Dengan kepemimpinan Satrio Piningit dari Gunung Slamet, diharapkan akan terwujud harmonisasi antara Kraton Laut, Kraton Api, dan Kraton Manusia,” imbuh Romo Edi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button