Rusia resmikan monumen Perang Dunia II, memanas diplomasi dan ancam ekonomi Jepang!

Jakarta, Maret.id — Monumen peringatan kemenangan Soviet atas Kekaisaran Jepang pada Perang Dunia II yang diresmikan di kota Khabarovsk, Rusia bagian timur jauh, memicu kecaman keras dari Tokyo dan menimbulkan ketegangan diplomatik baru antara kedua negara.
Patung setinggi 15 meter itu menampilkan sosok tentara Soviet yang menghancurkan batu perbatasan berukir lambang krisan kekaisaran Jepang dengan bagian popor senapan sebagai alat pemukul. Upacara peresmian berlangsung pada Jumat, 5 September 2026, dan memicu reaksi cepat dari pejabat Jepang yang menilai penggambaran tersebut sangat menyinggung “perasaan rakyat Jepang”.
Desain dan inisiatif
Monumen tersebut dibangun atas inisiatif Presiden Rusia Vladimir Putin dan desainnya terpilih melalui sebuah kontes yang melibatkan delapan peserta. Panitia penyelenggara memilih desain yang menggambarkan aksi simbolik penghancuran batu perbatasan yang dikaitkan dengan ekspansi Jepang pada awal abad ke-20.
Wakil kepala kantor kepresidenan bidang urusan kemanusiaan, Nikolay Ovsiyenko, menjelaskan bahwa batu yang digambarkan merupakan “replika persis” batu batas yang didirikan Jepang di Sakhalin setelah konflik awal abad ke-20. Ovsiyenko menegaskan bahwa monumen dimaksudkan untuk mengingatkan pada aspek militeristik dan agresif dari kebijakan Jepang di masa lalu.
Reaksi Tokyo dan tuntutan penghancuran
Tokoh-tokoh politik Jepang merespons dengan protes formal, termasuk permintaan agar monumen itu dihapus atau dihancurkan. Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, dilaporkan menyatakan melalui jalur diplomatik bahwa pihaknya telah meminta Rusia untuk menghentikan pemasangan dan menghapusnya, serta menyatakan penyesalan karena belum ada tanggapan dari Moskow.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyebut penggambaran penghancuran lambang kekaisaran sebagai “sama sekali tidak dapat diterima” dan menyatakan bahwa penggambaran tersebut menyinggung perasaan rakyat Jepang karena lambang itu “secara luas diakui sebagai simbol Jepang”. Pernyataan resmi Tokyo menekankan keprihatinan atas dampak emosional dan simbolik yang ditimbulkan oleh monumen tersebut.
Tanggapan Moskow dan pembelaan sejarah
Pemerintah Rusia, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova, menolak seluruh tuntutan untuk merobohkan atau mengubah monumen demi menyenangkan pihak asing. Zakharova menegaskan bahwa upaya semacam itu akan sama dengan “memerintahkan angin untuk tidak bertiup dan matahari untuk tidak bersinar”, seraya menekankan bahwa tanah, sejarah, dan ingatan kolektif bangsa Rusia dipertahankan melalui monumen-monumen tersebut.
Pernyataan dari pejabat Rusia juga menegaskan bahwa monumen itu didirikan sebagai bagian dari upaya resmi mengabadikan kemenangan dan korban perang, serta sebagai refleksi fakta sejarah yang menurut Moskow perlu diingat publik.
Hubungan bilateral dan isu teritorial
Peresmian monumen ini datang menyusul kunjungan Presiden Putin ke Kepulauan Kuril beberapa minggu sebelumnya, yang juga memicu protes keras dari Jepang. Kunjungan tersebut mendapat kecaman dari Tokyo yang menyebutnya “sama sekali tidak dapat diterima” dan menyatakan kunjungan itu melukai perasaan rakyat Jepang.
Perselisihan atas klaim teritorial Jepang terhadap sebagian Kepulauan Kuril menjadi isu lama yang menghambat tercapainya perjanjian damai formal pasca-Perang Dunia II antara Tokyo dan Moskow. Ketegangan atas monumen di Khabarovsk menandai babak baru yang berpotensi memperumit upaya dialog dan normalisasi hubungan bilateral.
Reaksi di tingkat publik memperlihatkan polarisasi; sejumlah pihak di Rusia menyambut monumen sebagai pengingat perjuangan sejarah, sementara di Jepang sejumlah pejabat dan kelompok masyarakat menyatakan keberatan keras. Ke depan, hubungan diplomatik kedua negara akan diuji oleh perbedaan penafsiran atas simbol-simbol sejarah dan tuntutan atas penghormatan terhadap perasaan nasional masing-masing pihak.





