Isu Palestina Dipakai untuk Dongkrak Elektabilitas Pemilu Israel, Memanas Ketegangan Regional!

Jakarta, Maret.id — Kampanye politik menjelang pemilu Israel memanas dengan sejumlah tokoh pemerintahan memanfaatkan isu Palestina, termasuk konten yang menampilkan kekerasan terhadap warga Palestina, untuk menarik dukungan pemilih.
Perubahan taktik kampanye ini menandai pergeseran dari debat kebijakan menjadi eksploitasi visual penderitaan sipil demi keuntungan elektoral.
Penggunaan teknologi dan konten AI
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tercatat aktif menggunakan video yang diproduksi dengan kecerdasan buatan (AI) dalam berkampanye, termasuk materi yang menyerang rival politik.
Dalam beberapa unggahan, Netanyahu menuduh Gadi Eisenkot—mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel yang kini menjadi tokoh politik—sebagai “kuda Troya” kelompok kiri dan pengaruh politikus Arab-Israel Mansour Abbas.
Platform digital menjadi arena baru persaingan setelah adanya video yang dibuat menggunakan teknologi sintesis gambar dan suara, yang menimbulkan kekhawatiran tentang disinformasi.
Pakarnya memperingatkan bahwa penggunaan AI dalam materi kampanye dapat mempercepat penyebaran narasi yang menyesatkan dan memperburuk polarisasi publik.
Pemanfaatan isu permukiman dan tindakan keras
Menteri Keuangan Bezalel Smotrich memilih menonjolkan agenda permukiman dalam sejumlah video kampanye, yang ia sebut sebagai “revolusi” di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Pernyataan dan materi visual semacam itu dimaksudkan untuk memperkuat citra penguasa yang tegas terhadap masalah keamanan dan klaim teritorial, terutama di mata pemilih sayap kanan.
Sementara itu Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir kerap membagikan konten di media sosial yang memperlihatkan pembongkaran rumah warga Palestina dan perlakuan terhadap tahanan.
Salah satu video unggahannya yang dibuat dengan teknologi AI menampilkan adegan tahanan Palestina seolah-olah dibawa menuju kematian di dalam penjara Israel; video tersebut kemudian dihapus setelah ditonton dan diunduh jutaan kali.
Implikasi politik dan sosial
Persaingan politik yang semakin ketat membuat isu Palestina tidak lagi sekadar bagian dari debat kebijakan, melainkan alat untuk membangun citra dan menarik basis pemilih tertentu.
Eksploitasi kekerasan dan penderitaan sipil sebagai materi kampanye berpotensi menormalisasi tindakan keras dan memperdalam luka sosial di antara komunitas Israel dan Palestina.
Penggunaan materi yang menggambarkan kekerasan juga berisiko memicu kecaman internasional serta menimbulkan kekhawatiran dari pengamat independen dan organisasi hak asasi manusia.
Selain itu, penyebaran video sensasional dengan cepat melalui platform daring menunjukkan keterbatasan mekanisme moderasi dan penegakan etika jurnalistik di era digital.
Kampanye yang mengandalkan citra kekerasan dan provokasi digital memaksa masyarakat untuk lebih kritis terhadap sumber informasi dan verifikasi konten.
Para pengamat menilai bahwa penguatan regulasi pada penggunaan AI dan kebijakan platform diperlukan untuk mencegah manipulasi opini publik menjelang proses elektoral.
Penutup: dinamika ini menunjukkan betapa rapuhnya batas antara perang politik dan realitas kemanusiaan, ketika penderitaan warga sipil menjadi komoditas dalam persaingan kekuasaan.





