Dunia

Lebih dari 400 Ribu Pekerja Mogok, Memanas dan Mengganggu Pasokan Industri Eropa!

Jakarta, Maret.id — Ratusan ribu pekerja di lebih dari 2.800 lokasi di seluruh Jerman menggelar mogok dan demonstrasi pada Jumat (6/11/2026) menuntut kenaikan upah serta jaminan lapangan kerja, menurut laporan dari serikat pekerja IG Metall. Aksi ini merupakan bagian dari gelombang protes yang melibatkan lebih dari 413.000 pekerja di berbagai sektor industri.

Aksi Mogok Nasional

IG Metall menyatakan bahwa mogok tersebar di sektor otomotif, teknik, logam dan pemasok yang terkait, mempengaruhi produksi di sejumlah pabrik besar. Aksi dilakukan setelah tiga putaran perundingan upah gagal mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak.

Aksi mogok terlihat di lebih dari 30 perusahaan di kawasan Nuremberg dan sekitarnya hari Jumat, termasuk nama-nama besar seperti Bosch, Siemens, MAN Truck & Bus, dan Schaeffler. Kerumunan dan pengunjuk rasa menghalangi akses pabrik dan menggelar orasi serta tuntutan di kawasan industri.

Tuntutan Serikat dan Respons Perusahaan

IG Metall menuntut kenaikan gaji sebesar 5 persen untuk periode 12 bulan bagi sekitar 3,7 juta pekerja, serta kenaikan upah magang, jaminan kerja, dan pembagian keuntungan di perusahaan yang memperoleh keuntungan. Pihak perusahaan menawarkan pembayaran satu kali pada 2027 dan kenaikan upah 1,3 persen mulai Juli 2028, yang oleh serikat dinilai setara dengan pemotongan upah riil.

Serikat memperingatkan bahwa tawaran perusahaan belum memadai untuk menutupi inflasi dan tekanan biaya hidup, sehingga mogok akan berlanjut jika tidak ada perbaikan pada tawaran. Negosiasi dilanjutkan pekan depan di beberapa wilayah yang menjadi pusat industri.

Lokasi dan Insiden Lapangan

Di sela aksi, rekaman menunjukkan pekerja di pabrik Bosch memblokir akses sambil mengibarkan plakat bertuliskan “Bunyikan klakson untuk masa depan” dan “Bunyikan klakson untuk lima persen”. Protes itu berlangsung di tengah rencana perusahaan memangkas lebih dari 900 pekerjaan di fasilitas tersebut pada 2029.

Di Saxony, pekerja Siemens dan Thyssenkrupp menggelar mogok selama beberapa jam di Chemnitz dengan berkumpul di luar pabrik Siemens untuk unjuk rasa bersama. Sehari sebelumnya sekitar 6.500 pekerja Audi di pabrik Neckarsulm melakukan mogok karena kekhawatiran terhadap masa depan produksi dan potensi penutupan pabrik pada 2034.

Gelombang mogok juga tercatat pada hari-hari sebelumnya di fasilitas Mercedes-Benz di Sindelfingen dan melibatkan sekitar 12.400 pekerja Airbus di empat lokasi berbeda. Mogok sebelumnya pernah melumpuhkan produksi di pabrik Audi Ingolstadt, Porsche Zuffenhausen, pabrik BMW di Bavaria, serta Volkswagen di Osnabrueck di mana sekitar 2.000 pekerja memprotes ancaman PHK.

Dampak Ekonomi dan Politik

Krisis yang melanda industri Jerman tidak hanya soal upah, melainkan juga refleksi dari tekanan struktural seperti kenaikan biaya energi pasca-terputusnya pasokan fosil murah dari Rusia, lemahnya investasi, tarif perdagangan, dan persaingan global dari China. Akibatnya beberapa pabrik tutup, produksi dipindah ke luar negeri, dan perusahaan-perusahaan raksasa memangkas ribuan posisi kerja.

Federasi Industri Jerman (BDI) pada Juli 2026 menggambarkan situasi sebagai kritis dengan peringatan bahwa sekitar 15.000 pekerjaan industri hilang setiap bulan dan sekitar 177.000 posisi manufaktur lenyap dalam setahun terakhir. Data produksi menunjukkan sedikit peningkatan pada September 2026 namun pertumbuhan kuartalan tetap negatif, sementara sektor padat energi belum pulih dibandingkan tahun sebelumnya.

Negosiasi dan Ancaman Mogok Lanjutan

IG Metall menegaskan bahwa perselisihan ini melampaui persoalan upah dan menuntut jaminan yang mengikat terkait lapangan kerja, produksi, dan investasi di pabrik-pabrik terkait. Salah satu pemimpin serikat IG Metall, Christiane Benner, menolak pemangkasan biaya lanjutan sebagai solusi dan menyerukan agar perusahaan melakukan investasi dan inovasi untuk menjaga kelangsungan industri.

Perundingan dijadwalkan dilanjutkan pada Senin di wilayah Bavaria, North Rhine-Westphalia, dan Saxony, dengan serikat mengancam akan mengintensifkan aksi hingga mogok yang lebih lama, berpotensi mencapai 24 jam, kecuali pengusaha meningkatkan tawaran mereka. Keputusan pengunjuk rasa dan intensitas aksi berikutnya akan menentukan dampak jangka pendek terhadap produksi serta tekanan politik terhadap perusahaan dan pembuat kebijakan.

Gelombang mogok di Jerman ini juga terjadi seiring dengan protes serupa di beberapa negara Eropa menyusul stagnasi upah, kenaikan biaya hidup, dan tekanan terhadap layanan publik. Beberapa demonstrasi di wilayah lain dilaporkan meningkat ketegangannya, yang menambah catatan bahwa isu upah dan ketidakpastian ekonomi saat ini menjadi tantangan transnasional bagi industri dan pemerintahan.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button