Legislator PDIP Desak Pemerintah Antisipasi Lonjakan BBM

Jakarta, Maret.id — Anggota Komisi VI DPR RI, Hj. Ida Nurlaela Wiradinata, mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai potensi lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, seperti Pertamax dan Pertamina Dex.
Menurut Ida, isu ini menciptakan perhatian serius terkait gejolak ekonomi yang dapat mempengaruhi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa potensi kenaikan harga BBM non-subsidi bisa mencapai Rp20.000 per liter dan harus diantisipasi sejak dini. “Langkah ini krusial karena lonjakan harga minyak dunia berisiko menekan biaya energi masyarakat serta memukul aktivitas ekonomi nasional,” tutur Ida.
Legislator dari PDIP ini mendesak pemerintah dan Pertamina untuk memastikan bahwa setiap kebijakan penyesuaian harga dilakukan secara terukur. Penyesuaian tersebut harus mempertimbangkan dinamika pasar global tanpa mengabaikan daya beli masyarakat.
“Pemerintah dan Pertamina perlu mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM non-subsidi terhadap daya beli masyarakat, biaya logistik, hingga harga kebutuhan pokok,” imbuhnya.
Ia menambahkan, gejolak harga minyak dunia yang kini kembali melampaui angka 100 Dolar AS per barel tidak boleh direspons secara reaktif setelah dampaknya dirasakan luas. “Gejolak harga minyak dunia harus diantisipasi dari awal. Jangan sampai kenaikan harga energi global berujung menjadi beban baru bagi masyarakat,” tegasnya.
Apabila tren kenaikan harga minyak berlangsung lama, Ida mendorong pentingnya penyiapan mitigasi risiko yang matang. “Tiga fokus utama yang harus dijaga adalah pertama, stabilitas pasokan, yakni dengan menjamin ketersediaan energi nasional tetap aman. Kedua, efisiensi biaya, yakni dengan mengoptimalkan pengelolaan operasional agar tidak membengkak. Dan ketiga, transparansi harga, yakni dengan menjaga kejelasan formulasi harga bagi publik,” bebernya.
“Pertamina diharapkan siap dengan strategi adaptif guna menjaga keberlanjutan layanan energi sekaligus memastikan harga BBM tetap terjangkau,” pungkas Ida.





