Politik

Humanika Perlu Dukung Presiden Atasi Middle Income Trap RI

Jakarta, Maret.id — Pendiri Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika), Bursah Zarnubi, menekankan pentingnya bagi bangsa ini untuk keluar dari status negara berpendapatan menengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Bursah dalam acara Reuni dan Silaturahmi ke-36 Humanika yang digelar di Cerita Rasa Nusantara, Jakarta Selatan, pada Jumat, 18 September 2026.

Ia menjelaskan bahwa Humanika, yang telah berdiri sejak 1990, perlu beradaptasi dengan kondisi terkini untuk mencapai cita-cita bangsa. “Saya ingin Humanika ada yang baru, mahasiswa yang paling muda berkualitas, yang kita tunggu nanti,” ujar Bursah.

Bursah meyakini bahwa sistem demokrasi yang diterapkan Indonesia pasca-Reformasi 1998 harus dipromosikan oleh generasi muda. “Dan kemudian Bapak Presiden (dalam) menuju Indonesia Emas 2045, ingin sekali untuk bisa membutuhkan sumber daya yang cukup untuk melepaskan jebakan itu,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perlunya upaya kolaboratif untuk mempercepat keluar dari status ini, dengan merujuk pada pencapaian negara lain di Asia. “Kita ketinggalan negara lain. Dua bulan lalu, Vietnam sudah keluar dari middle income trap. Kemudian Filipina yang juga sudah keluar dari middle income trap. Indonesia masih di middle income trap,” sambungnya.

Sebagai Bupati Lahat dan Ketua Umum Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Bursah berharap regenerasi Humanika dapat diisi oleh pemuda yang mendorong percepatan Indonesia keluar dari status tersebut. “Jadi, income kita di bawah mereka,” imbuh Bursah.

Ia juga berbicara mengenai pentingnya revolusi Pasal 33 (UUD 1945), yang berfokus pada fondasi dasar sistem perekonomian nasional. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, termasuk Aktivis Senior Malari Hariman Siregar, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, dan Kepala Badan Komunikasi Kantor Presiden (Bakom) RI Muhammad Qodari.

Hadir pula berbagai tokoh politik dan akademisi, seperti Pimpinan Komisi XI DPR RI Fauzi Amro dan Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Ma’mun Murod Al-Barbasy. Acara tersebut menjadi momentum bagi dialog mengenai masa depan dan regenerasi kepemudaan di Indonesia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button