Prabowo dan Dubes Palestina berpelukan, memanas hubungan diplomatik dan pasar!

Jakarta, Maret.id — Presiden Prabowo Subianto menyerukan “Free Palestine” sebanyak tiga kali saat menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Momen salam dan sambutan
Prabowo membuka bagian sapaan dengan menyebut nama sejumlah duta besar yang hadir, termasuk Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdulfattah Al Sattari. Sapaan khusus kepada perwakilan Palestina itu mendapat sambutan meriah dari peserta acara hingga suara tepuk tangan menggema di ruang resepsi.
Seruan solidaritas di atas panggung
Setelah jeda singkat, Presiden Prabowo mengepalkan tangan kanan dan meneriakkan “Free Palestine” yang kemudian diikuti oleh para hadirin, sehingga suasana panggung berubah menjadi sorak dukungan bersama. Reaksi spontan ini memperlihatkan tensi emosional yang kuat antara narasi kebangsaan pesantren dan keprihatinan terhadap situasi di Palestina.
Aksi keffiyeh dan pelukan diplomatik
Tidak lama setelah itu, Abdulfattah Al Sattari berdiri dari tempat duduknya, melambaikan tangan kepada audiens, lalu bergegas ke panggung membawa keffiyeh bermotif bendera Palestina yang dibentangkan di atas panggung. Ia kemudian memasangkan keffiyeh tersebut pada tubuh Presiden Prabowo dan keduanya berpelukan di depan hadirin, sebuah momen yang disambut tepuk tangan panjang dari para peserta.
Pernyataan Presiden tentang Palestina
Dalam sambutannya yang dilanjutkan setelah peristiwa itu, Prabowo menyatakan, “Saya minta maaf tadi saya ingat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus dan kita seolah-olah kurang berdaya untuk membantu mereka.” Pernyataan tersebut menggarisbawahi empati pemerintahan terhadap penderitaan warga Palestina sekaligus menjelaskan alasan emosional di balik seruan yang digaungkan di acara tersebut.
Kehadiran tamu dan konteks acara
Acara perayaan satu abad Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor dihadiri sejumlah tamu kehormatan dan perwakilan diplomatik termasuk duta besar negara-negara sahabat seperti Turkiye, Mesir, Qatar, Kuwait, Sudan, Suriah, dan Yaman. Resepsi yang semula bernuansa perayaan ulang tahun pesantren berubah menjadi forum singkat yang juga memuat pesan politik dan solidaritas internasional.
Implikasi simbolik dan diplomatik
Aksi dan pernyataan di panggung itu dipandang sebagai simbol dukungan moral yang kuat dari pemerintah, yang konsisten dengan kebijakan historis Indonesia dalam mendukung hak-hak bangsa Palestina. Meski bersifat simbolik, momen tersebut berpotensi memiliki resonansi diplomatik karena berlangsung di hadapan perwakilan asing dan di tengah sorotan publik nasional.
Abdulfattah akhirnya kembali ke tempat duduknya setelah berpelukan dan bersalaman, sementara Presiden Prabowo melanjutkan pidato dan menyapa tamu lain yang hadir di acara peringatan tersebut. Peristiwa di Gontor itu diharapkan menjadi catatan penting dalam jejak hubungan diplomatik antara Indonesia dan Palestina serta dalam wacana publik soal solidaritas kemanusiaan.





