Wakil PM Malaysia Ary Ginanjar Perkuat Hubungan RI

Jakarta, Maret.id — Kunjungan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, ke Menara 165 di Jakarta pada 22 September 2026, menandai sebuah momen penting dalam hubungan Indonesia dan Malaysia. Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga bertujuan memperkuat kolaborasi antara kedua negara.
Prof. Ary Ginanjar Agustian, Pendiri Universitas Ary Ginanjar, menyebut pendekatan yang dikembangkan dalam pertemuan ini sebagai diplomasi spiritual. “Persahabatan kami tidak melihat jabatan, tetapi persahabatan hati,” tuturnya. Dua tokoh ini telah menjalin hubungan persahabatan selama lebih dari dua dekade.
Ary menekankan bahwa nilai budaya dan kemanusiaan harus menjadi fondasi dalam hubungan antarbangsa. Ia memperingatkan akan pentingnya merawat eksistensi hubungan itu, terlepas dari tantangan yang dihadapi, termasuk ketegangan bersejarah terkait sengketa Ambalat.
Dalam perbincangan tersebut, Ahmad Zahid, yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan Malaysia, berkunjung ke Menara 165 meskipun dalam suasana ketegangan. Menurut Ary, pertemuan itu juga menjadi momen untuk memperkuat komunikasi antara tokoh pertahanan kedua negara.
Ary juga menyampaikan bahwa keberadaan sekitar 2,5 juta alumni ESQ di Indonesia dan Malaysia dapat memperkuat ikatan masyarakat kedua negara. “Alumni ESQ menjadi jembatan kultural dan spiritual antara Indonesia dan Malaysia,” imbuhnya.
Selain silaturahmi, pertemuan ini juga membahas peluang kolaborasi untuk menghadapi tantangan di masa depan. Pertama, penguatan hubungan budaya dan spiritual merupakan hal yang dianggap penting bagi masyarakat serumpun.
Program pengembangan sumber daya manusia melalui Technical and Vocational Education and Training (TVET) Malaysia juga menjadi topik diskusi. Terdapat minat terhadap penerapan TalentDNA Assessment sebagai langkah strategis dalam pemetaan potensi.
Gagasan untuk memperkuat ekosistem halal regional juga menjadi pokok pembahasan, termasuk pembentukan ASEAN Halal Council. Hal ini diharapkan dapat menjadikan Asia Tenggara sebagai salah satu pusat industri halal dunia.





