Malam Penari Tayub Diwisuda, Merawat Warisan di Trenggalek

Jakarta, Maret.id — Malam di Desa Duren, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, dipenuhi dengan alunan gamelan yang mengiringi prosesi wisuda para penari tayub. Suasana khidmat menggabungkan tradisi dan seni budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Ratusan hadirin menyaksikan prosesi yang melibatkan puluhan penari berkebaya dan berbatik. Wisuda ini bukan hanya tentang kelulusan, tetapi juga pernyataan komitmen untuk melestarikan seni tayub yang merupakan bagian integral dari identitas masyarakat Trenggalek.
Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi, menekankan pentingnya tradisi ini. “Inilah ciri khas Trenggalek. Warganya masih memegang teguh tradisi leluhur. Salah satunya ini, seni tayub. Seni ini sudah melegenda,” tuturnya. Doding hadir untuk memberikan dukungan kepada para penari yang telah berkomitmen menjadi pelestari seni tayub.
Setiap penari mengucapkan ikrar dalam upacara tersebut. Kegiatan ini menempatkan tanggung jawab budaya di pundak mereka untuk menjaga makna dan nilai dari kesenian tayub di tengah arus modernisasi. “Sekali lagi, saya mengucapkan selamat atas wisuda para pelestari seni budaya tayub,” imbuh Doding.
Kesenian tayub sendiri memiliki sejarah panjang yang terhubung dengan kehidupan agraris masyarakat Mataraman. Doding menambahkan, tayub tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga sebuah simbol syukuran atas panen. Tari dan iringan gamelan menyimpan harapan akan hasil pertanian yang melimpah di masa depan.
Namun, perjalanan tayub tidak selalu mulus. Ada pandangan negatif yang melekat pada kesenian ini, di mana tayub sering dihubungkan dengan minuman keras. Doding berpendapat bahwa persepsi semacam itu seharusnya tidak mengikis apreasiasi terhadap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tayub. “Banyak anggapan memang, identik dengan menari dan minuman keras. Tetapi sebenarnya ada makna mulia di balik kesenian tayub ini,” terangnya.
Para penari, meskipun sebagian besar berusia lanjut, menunjukkan bahwa semangat melestarikan budaya tetap hidup. Mereka terus berlatih dan tampil untuk memastikan generasi mendatang mengenal kesenian yang diwarisi oleh nenek moyang mereka.
Doding berharap masyarakat Trenggalek tidak melupakan kekayaan budaya lainnya. Tayub hanya salah satu dari banyak seni tradisional seperti jaranan dan senterewe. “Ini kekayaan budaya Trenggalek. Harus tetap dijaga,” pungkas Doding, yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPC PDIP Trenggalek.
Malam semakin larut, namun irama gamelan di Desa Duren tetap menggema. Para penari tayub yang baru saja diwisuda kini memiliki tugas baru: menjaga agar seni ini tetap hidup di tengah tantangan zaman dan teknologi.





