IMF Prediksi Pertumbuhan 2026 Naik Jadi 3,1 Persen, Waspada Ketegangan Picu Guncangan!

Jakarta, Maret.id — Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 menjadi 3,1 persen, naik 0,1 poin persentase dibandingkan proyeksi pada Juli 2026. Kenaikan ini terutama didorong oleh lonjakan investasi pada teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dinilai mampu meredam sebagian dampak guncangan dari konflik di Timur Tengah.
Proyeksi Pertumbuhan Jangka Pendek
Dalam Laporan Prospek Ekonomi Dunia (World Economic Outlook) bertajuk “Ketahanan di Bawah Tekanan, Pilihan Mendesak” yang dirilis Selasa (13/10/2026), IMF memproyeksikan perlambatan dari 3,5 persen pada 2025 menjadi 3,1 persen pada 2026. Pertumbuhan dunia diperkirakan akan kembali naik menjadi 3,4 persen pada 2027.
IMF menekankan bahwa angka agregat itu menyembunyikan dinamika yang sangat tidak merata antarnegara. Hanya 32 negara yang kini menyumbang 95 persen dari pertumbuhan global, turun drastis dari 54 negara pada April 2026.
Konsentrasi Pertumbuhan dan Ketimpangan
Sekitar 47 persen negara di dunia mengalami penurunan proyeksi pertumbuhan, menurut IMF. Lembaga itu menggambarkan kondisi saat ini bukan sekadar perlambatan, melainkan fase redistribusi pertumbuhan yang bergantung pada tingkat paparan terhadap guncangan energi dan permintaan AI.
Negara-negara dengan kerentanan energi rendah dan keterikatan kuat ke rantai pasok perangkat keras AI tercatat berkinerja lebih baik. Sebaliknya, pengimpor energi yang minim koneksi dengan siklus teknologi, termasuk banyak negara berpenghasilan rendah, menghadapi tekanan berat berupa melonjaknya biaya impor, pelemahan nilai tukar, dan penurunan pendapatan riil.
Ancaman Pasokan Energi dan Skenario Minyak
Dalam skenario dasar, IMF mengasumsikan jalur pelayaran Selat Hormuz akan dibuka kembali penuh pada Maret 2027 dan pasokan energi pulih ke tingkat pra-perang pada Oktober 2027. Sebelum konflik, Selat Hormuz mengangkut sekitar seperempat perdagangan minyak mentah dunia lewat jalur laut.
Penutupan selat sempat berisiko memangkas pertumbuhan global hingga 0,9 poin persentase pada tahun ini, tetapi pengalihan produksi, peningkatan produksi di kawasan lain, penggunaan cadangan, dan penurunan intensitas ketergantungan minyak meredam dampak bersih menjadi sekitar 0,3 poin. IMF juga memperingatkan persediaan minyak dunia kini menipis hingga batas kritis yang dapat memicu lonjakan harga lebih lanjut.
Dampak Regional dan Harga Energi
Konflik menghantam keras negara-negara produsen di kawasan Teluk. IMF memproyeksikan proyeksi ekonomi Arab Saudi untuk 2026 dipangkas sekitar lima poin persentase dari perkiraan Juli sehingga diperkirakan terkontraksi 3,3 persen pada 2026.
Negara-negara seperti Bahrain, Irak, Kuwait, dan Qatar diperkirakan mengalami penyusutan ekonomi yang dalam pada tahun ini. Harga minyak mentah diproyeksikan rata-rata USD95,74 per barel pada 2026, melonjak sekitar 41 persen dari 2025, dan turun menjadi USD87,39 per barel pada 2027.
Inflasi, Kebijakan, dan Prospek Per Negara
Akibat gejolak harga energi, inflasi global diperkirakan naik dari 4,1 persen pada 2025 menjadi 4,7 persen pada 2026 sebelum mereda ke 4,1 persen pada 2027. Perkiraan ini lebih tinggi 0,3-0,4 poin persentase dibanding proyeksi IMF pada April lalu.
IMF memperkirakan inflasi inti akan mereda ke target sekitar 2 persen pada akhir 2027 untuk Jepang dan Inggris, dan pada pertengahan 2028 untuk Kawasan Euro dan Amerika Serikat. Di kelompok ekonomi utama, Amerika Serikat diproyeksikan tumbuh stabil sekitar 2,3 persen pada 2026 dan 2027, didukung konsumsi domestik, kebijakan fiskal, dan investasi teknologi.
Eropa diperkirakan tumbuh lebih lambat di sekitar 1,1 persen pada 2026 dan 1,2 persen pada 2027 karena harga energi yang tinggi dan kepercayaan konsumen yang lemah. India melejit dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 7,0 persen untuk 2026 dan 2027, sementara Inggris dan Jepang masing-masing diperkirakan tumbuh sekitar 1,3 persen dan 0,7 persen pada 2026.
IMF menegaskan bahwa pilihan kebijakan makro dan upaya diversifikasi energi serta investasi teknologi akan menjadi penentu utama bagaimana negara-negara dapat menavigasi ketidakpastian ini. Kebijakan yang mampu memperkuat ketahanan energi dan mendorong adopsi produktif AI disebut kritikal untuk mengurangi jurang pertumbuhan antarnegara.





