Politik

Indi Naidha Prihatin Terhadap Kekerasan Siswa di Jember

Jakarta, Maret.id — Sekretaris Komisi D DPRD Jember, Indi Naidha, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap dugaan kekerasan yang dialami tiga siswa di Sekolah Rakyat di Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung. Ia menyatakan bahwa kedisiplinan dalam pendidikan tidak seharusnya melibatkan tindakan fisik yang dapat membahayakan siswa.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah salah satu siswa dilaporkan mengalami pemukulan dan harus mendapatkan perawatan di Puskesmas Ajung. Insiden itu terjadi di lingkungan asrama pada Minggu malam, 18 Oktober 2026, dan telah dilaporkan oleh keluarga korban ke Polres Jember.

“Saya turut prihatin atas dugaan kekerasan terhadap siswa di lingkungan Sekolah Rakyat di Jember. Terlebih, salah satu siswa harus mendapatkan perawatan di Puskesmas Ajung akibat luka yang dialaminya,” tegas Indi Naidha, Sekretaris Komisi D DPRD Jember.

Politisi PDI Perjuangan ini menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai wilayah yang aman bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang. Ia meminta semua pihak untuk memastikan perlindungan terhadap anak-anak menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk di lingkungan asrama.

Dalam rangka menjaga kedisiplinan, Indi juga menyoroti kasus seorang siswa yang kedapatan merokok di asrama. Ia menegaskan bahwa pembinaan siswa harus dilakukan dengan pengendalian emosi serta keteladanan dari para pengasuh.

Dugaan penganiayaan berawal ketika seorang siswa dituduh merokok, di mana paman salah satu korban, BDC, menyatakan bahwa siswa tersebut dipukul oleh seorang mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan) yang bertugas di asrama.

BDC menambahkan bahwa dua siswa lainnya yang mempertanyakan alasan pemukulan juga diduga mengalami kekerasan. Dari ketiga siswa tersebut, P, keponakan BDC, mengalami luka paling serius yang terlihat di dada dan punggung.

Keluarga mengaku mendapatkan informasi mengenai insiden tersebut dari wali asrama dan ditelepon oleh pihak sekolah yang meminta agar korban tidak melakukan visum atau melaporkan insiden tersebut. Namun, keluarga akhirnya memutuskan untuk melapor ke polisi.

Indi Naidha berharap kasus ini ditangani secara objektif berdasarkan hukum yang berlaku. Ia juga menyerukan evaluasi sistem pendidikan dan penguatan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

“Mendidik bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang memberikan teladan, menjaga, dan menghargai anak-anak. Sebab, setiap anak berhak belajar dengan aman, sehat, dan tanpa rasa takut,” ujar Indi.

Hingga berita ini diturunkan, kepala Sekolah Rakyat belum memberikan komentar terkait dugaan kekerasan tersebut. Kasus ini masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button