Israel Pangkas Bantuan Pangan Gaza, Memanas Ancaman Kelaparan bagi 1,4 Juta Warga!

Jakarta, Maret.id — Krisis pangan di Jalur Gaza kembali memburuk setelah pembatasan masuknya barang dan pemangkasan bantuan kemanusiaan membuat warga semakin kesulitan mendapatkan makanan. Kondisi itu menambah beban keluarga yang sudah lama terdampak perang, meningkatnya harga pangan, dan keterbatasan akses bantuan di wilayah yang dikepung.
Kisah keluarga yang menjerit karena kelaparan
Huda Abu Leila, 30 tahun, kini hanya mampu menyajikan roti dan teh untuk lima anak perempuannya yang berusia 18 bulan hingga 10 tahun. Keluarga itu tinggal di sebuah tenda di bagian barat Gaza City setelah suaminya mengalami luka perang yang membuatnya tidak lagi bisa bekerja.
Ketergantungan pada bahan makanan minim
Untuk bertahan hidup, Huda mengandalkan sedikit penghasilan dari membuat roti untuk orang lain dan persediaan makanan kaleng yang semakin menipis. Dalam kondisi tertentu, mereka hanya bisa bergantung pada kacang kalengan yang dibumbui rempah lokal atau za’atar, bahkan sampai mencelupkan roti ke dalam teh ketika bahan pokok lain tidak tersedia.
Pembatasan masuk barang mulai 14 Oktober 2026
Masalah keluarga Huda meluas setelah Israel menerapkan pembatasan masuk barang komersial ke Gaza sejak 14 Oktober 2026, yang memicu gangguan pasokan makanan dan kebutuhan pokok. Pembatasan tersebut berdampak langsung pada ketersediaan telur, susu, dan bahan pokok lain yang kini sulit ditemukan di pasar lokal.
Pemangkasan bantuan PBB memperburuk keadaan
Tekanan terhadap warga Gaza kian berat ketika Program Pangan Dunia (WFP) PBB mengumumkan pemangkasan bantuan pada 19 Oktober 2026 akibat kekurangan dana. WFP mengurangi jumlah penerima bantuan dari 1,6 juta orang pada September menjadi 1,1 juta orang pada Oktober serta memangkas jatah dari dua paket menjadi satu paket makanan.
Pengurangan porsi dan layanan siap santap
Selain pengurangan jumlah penerima, bantuan tepung terigu juga dikurangi dan penyediaan makanan siap santap turun dari 250.000 menjadi 150.000 porsi per hari. WFP memperingatkan bahwa sekitar 1,4 juta warga Gaza, atau sekitar dua pertiga populasi, menghadapi kerawanan pangan akut pada tingkat krisis atau lebih parah.
Respons dan perkembangan terbaru
Pada 19 Oktober, otoritas Israel mengumumkan pembukaan bertahap pengiriman barang komersial ke Gaza, namun pemberian akses itu dinilai belum cukup untuk mengembalikan pasokan yang sempat terganggu. Sementara itu, warga menghadapi kenyataan bahwa bantuan yang tersisa harus dibagi lebih banyak orang dengan porsi yang lebih kecil.
Dampak jangka panjang dan kebutuhan mendesak
Para pengamat kemanusiaan menilai pemangkasan bantuan dan gangguan pasokan dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan anak, kesehatan masyarakat, dan stabilitas sosial di Gaza. Kondisi ini menimbulkan seruan mendesak agar donatur internasional meningkatkan bantuan dan pihak berwenang memperlancar akses kemanusiaan agar kebutuhan dasar warga segera terpenuhi.
Penderitaan keluarga seperti Huda menggambarkan sisi kemanusiaan dari statistik yang dirilis lembaga internasional, sekaligus mengingatkan bahwa upaya pemulihan memerlukan langkah cepat dan terkoordinasi agar krisis pangan tidak berubah menjadi bencana kemanusiaan yang lebih luas.





