Houthi dan Koalisi Arab Saudi Memanas, Serangan Rudal Seret Harga Minyak Naik!

Jakarta, Maret.id — Kelompok Houthi di Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi saling melancarkan serangan berskala besar pada Sabtu, 24 Oktober 2026, yang menandai eskalasi baru dalam konflik berkepanjangan di kawasan itu. Pertukaran serangan tersebut melibatkan rudal balistik, pesawat nirawak (drone), serta serangan udara intensif yang menimbulkan kerugian material dan korban jiwa di kedua pihak.
Kronologi Serangan
Houthi menyatakan telah meluncurkan tujuh serangan rudal dan serangkaian drone yang menargetkan bandara, fasilitas minyak, dan pangkalan militer di sejumlah kota Arab Saudi seperti Riyadh, Yanbu, Rabigh, Dammam, Najran, dan Khamis Mushait. Pernyataan resmi dari juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menyebut dua tahap serangan terhadap Bandar Udara Internasional King Khalid di Riyadh serta serangan lain yang mengenai fasilitas perusahaan minyak dan infrastruktur transportasi.
Di sisi lain, koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan berhasil mencegat dan menghancurkan beberapa rudal yang diluncurkan ke arah Riyadh, Taif, dan Yanbu, serta sebuah drone di Provinsi Timur. Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil Arab Saudi melaporkan puing-puing dari rudal yang berhasil dicegat jatuh di wilayah suci Makkah dan Madinah, namun kelompok Houthi membantah menargetkan kedua kota tersebut dan menyebut klaim itu tidak berdasar.
Dampak dan Korban
Houthi menyatakan aksi tersebut merupakan respons terhadap apa yang mereka gambarkan sebagai sekitar 100 serangan udara oleh koalisi terhadap wilayah yang dikuasai mereka dalam kurun waktu 24 jam sebelumnya. Serangan udara yang dimaksud dilaporkan menjangkau Ibu Kota Sanaa dan kota pelabuhan Mocha di pesisir Laut Merah, yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Laporan dari wilayah yang terdampak menyebutkan sedikitnya delapan orang tewas dan lebih dari sepuluh lainnya luka-luka ketika serangan udara menghantam hunian pekerja pabrik semen di Distrik Hamdan, Provinsi Sanaa. Data mengenai jumlah korban masih terus diperbarui oleh pihak-pihak di lapangan, sementara organisasi kemanusiaan mengingatkan potensi meningkatnya kebutuhan bantuan akut di tengah kelangkaan layanan dasar.
Serangan di Aden dan Pernyataan Militer
Dalam pernyataan terpisah, Houthi mengaku menargetkan apa yang disebutnya sebagai pengerahan pasukan yang didukung Arab Saudi di kamp Al-Nasr serta sebuah pangkalan militer angkatan laut di pelabuhan Aden, yang menjadi markas pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Serangan yang diarahkan ke wilayah selatan ini menandai perluasan medan konflik yang berdampak pada pusat-pusat pemerintahan dan fasilitas strategis di Yaman.
Seorang pejabat keamanan setempat melaporkan adanya peluncuran sekitar empat rudal balistik ke Aden, dengan beberapa rudal menghantam area dekat Bandar Udara Internasional Aden serta fasilitas militer di Distrik Khormaksar, sementara satu rudal dilaporkan mengenai markas Pasukan Penjaga Pantai di Distrik Al-Tawahi. Kondisi infrastruktur dan layanan publik di kota-kota pelabuhan seperti Aden menjadi rentan akibat serangan yang mengganggu akses logistik dan respons darurat.
Reaksi Internasional dan Imbauan Perjalanan
Di tengah eskalasi, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memperbarui imbauan perjalanannya untuk sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Irak, Lebanon, dan Israel, dengan menyebutkan ancaman dari serangan rudal dan drone. Pembaruan imbauan tersebut mencerminkan kekhawatiran diplomatik dan keamanan global terkait meningkatnya aksi militer yang dapat berdampak pada warga asing dan jalur perdagangan maritim.
Analis regional memperingatkan bahwa eskalasi semacam ini berpotensi mengganggu lalu lintas pelayaran di Laut Merah dan Selat Hormuz, serta memicu respons lebih luas dari aktor-aktor kawasan dan internasional. Seruan untuk menahan diri dan upaya diplomasi mendesak muncul dari beberapa negara dan organisasi internasional, yang menekankan pentingnya perlindungan warga sipil dan akses bantuan kemanusiaan.
Latar Belakang Konflik
Konflik di Yaman bermula sejak akhir 2014 ketika Houthi menguasai ibukota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara, yang kemudian memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada 2015 untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Sejak itu, ketegangan antara kubu Houthi dan kekuatan pro-pemerintah disertai campur tangan regional telah menyebabkan krisis kemanusiaan berkepanjangan dengan jutaan warga terkena dampak langsung.
Dengan eskalasi terbaru ini, ancaman terjadinya konflik yang lebih luas tetap nyata, sementara upaya mediasi dan tekanan internasional terhadap semua pihak untuk mengurangi ketegangan menjadi semakin penting. Komunitas internasional dan lembaga kemanusiaan diharapkan meningkatkan koordinasi untuk mengamankan akses bantuan bagi warga sipil yang terdampak dan mendorong langkah-langkah yang dapat mencegah konflik meluas.





