Polusi Surabaya Makin Parah, Wali Kota Eri Ungkap Penyebabnya

Jakarta, Maret.id — Kondisi polusi udara di Kota Surabaya menjadi sorotan publik belakangan ini. Banyak warganet yang mengeluhkan tingginya kadar polusi yang menyelimuti kota tersebut.
Menurut data dari IQAir dan AccuWeather, kualitas udara Surabaya pada hari ini berada di indeks 120-153, PM 2.5, yang dikategorikan tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa tingkat polusi meningkat akibat aktivitas truk industri yang tinggi di koridor Tandes-Margomulyo. Selain itu, sekitar 4,5 juta komuter harian dari wilayah sekitar juga turut menyumbang emisi.
Emisi tidak merata di Surabaya, dengan konsentrasi tertinggi terdapat di kawasan industri yang dilalui kendaraan antar daerah. “Dari pemantauan kami, 20 persen kualitas udara dalam kondisi baik dan 80 persen berkategori sedang,” kata Eri.
Kadar emisi harian tertinggi tercatat pada dini hari hingga pagi. “Yang paling tinggi tidak ada di wilayah tertentu, tetapi di Tandes, di mana banyak pabrik,” tuturnya.
Pemkot Surabaya tidak dapat melarang pergerakan truk industri di Margomulyo yang merupakan jalan provinsi dan nasional. “Kita tidak bisa membatasi truk yang masuk ke Kota Surabaya menuju ke lokasinya,” imbuh Eri.
Selain faktor industri, lonjakan komuter juga berkontribusi signifikan terhadap emisi kendaraan bermotor di Surabaya. “Penduduk Surabaya 3 juta, tetapi saat pagi dan malam jumlahnya meningkat menjadi 7,5 juta,” jelasnya.
Kepadatan lalu lintas terjadi pada jam-jam sibuk, yaitu dari pukul 06.00 hingga 08.00 dan 16.00 hingga 19.30. “Kemacetan disebabkan oleh kendaraan dari luar kota yang masuk ke Surabaya,” lanjut Eri.
Eri menegaskan bahwa masalah emisi tidak akan teratasi hanya dengan memperbaiki transportasi umum di Surabaya. “Harus melibatkan daerah sekitar seperti Gresik dan Sidoarjo,” tegasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkot bersama pemerintah daerah aglomerasi merencanakan pembangunan kereta Surabaya Regional Railway Line (SRLR) yang akan dimulai pada awal 2027. “Kereta ini ditargetkan beroperasi pada 2028-2029,” imbuh Eri.
Eri menekankan bahwa integrasi dan tarif yang terjangkau sangat penting untuk meringankan beban pekerja. “Wira-Wiri yang saya sebutkan akan tersedia dengan biaya terjangkau,” tutupnya.





