Netanyahu Mendesak Trump Serang Iran Usai Pemilu, Memanas Pasar Energi!

Jakarta, Maret.id — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan intensif menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meminta serangan terhadap fasilitas Iran segera setelah pemilihan paruh waktu AS. Laporan yang beredar menyebut percakapan itu berlangsung berkala dan mencapai puncak intensitas dalam beberapa hari terakhir menjelang pemungutan suara.
Desakan Netanyahu kepada Trump
Sumber di Yerusalem mengatakan panggilan antara Netanyahu dan Trump bersifat mendesak dan, menurut satu sumber, “keras” dalam nada pembicaraan. Sumber lain di Washington menggambarkan pembicaraan itu “langsung” dan fokus pada kemungkinan serangan terhadap situs-situs sensitif Iran.
Netanyahu dikabarkan menekan agar AS memprioritaskan serangan pada lokasi tertentu, termasuk fasilitas di yang disebut “Gunung Pickaxe” di wilayah tengah Iran. Pejabat Israel percaya lokasi itu menjadi fokus dugaan kelanjutan program pengayaan nuklir Iran.
Respons Washington dan kebijakan militer
Menurut sumber-sumber yang mengetahui pembicaraan, Presiden Trump menolak opsi serangan langsung seketika dan memilih memberi ruang bagi upaya negosiasi untuk meredakan ketegangan. Trump disebut menginginkan jembatan diplomasi antara Washington dan Teheran sebelum mengambil tindakan militer besar.
Meski demikian, Trump juga mengisyaratkan bahwa beberapa situs nuklir Iran masih harus “dilumpuhkan”, dengan menyatakan bahwa perencanaan serangan sudah tersedia jika diperlukan. Pernyataan semacam ini memicu kekhawatiran di kalangan analis mengenai risiko eskalasi militer di Timur Tengah.
Negosiasi yang berlangsung dan tuntutan Teheran
Delegasi Iran dan perwakilan AS dilaporkan kembali berkomunikasi melalui mediator regional dalam beberapa hari terakhir. Pembicaraan yang berlangsung di kawasan Teluk tersebut berfokus pada paket tujuh langkah yang diajukan Teheran, dengan kemungkinan percepatan implementasi jika ada kesepakatan.
Juru bicara kementerian luar negeri Iran menegaskan bahwa syarat Teheran harus dipenuhi, termasuk pengakhiran kebijakan blokade angkatan laut yang diberlakukan oleh AS sebagai prasyarat untuk membuka kembali jalur diplomasi yang lebih luas. Iran menegaskan tidak akan menerima kesepakatan abadi tanpa jaminan yang memenuhi kebutuhan keamanannya.
Ancaman dan kesiapan militer Iran
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, memerintahkan angkatan bersenjata untuk bersiap memberikan respons “segera dan efektif, tanpa batasan geografis” jika Republik Islam diserang lagi. Pernyataan tersebut mempertegas kesiapan Teheran untuk membalas serangan militer yang dianggapnya agresi.
Di sisi lain, serangan rudal dan drone terhadap infrastruktur militer AS di kawasan dinilai telah menimbulkan kerusakan finansial yang signifikan di pangkalan-pangkalan terkait, menurut perkiraan yang beredar di kalangan analis. Hal ini menambah tekanan pada perencana militer AS yang harus mempertimbangkan ketersediaan dan cadangan amunisi strategis.
Peran pihak ketiga dan dinamika diplomatik
Beberapa aktor internasional dilaporkan menawarkan diri untuk memediasi agar perang dapat dihindari dan jalur diplomasi kembali dibuka. Moskow disebutkan masih menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi penyelesaian konflik antara Washington dan Teheran sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan regional.
Sementara itu, pernyataan tokoh-tokoh politik dan jurnalis di berbagai platform menambah intensitas informasi yang beredar, termasuk klaim-klaim mengenai kemungkinan serangan nuklir yang dinilai berisiko memicu kepanikan. Klaim semacam itu dikritik oleh beberapa pengamat karena dapat memperburuk suasana politik dan militer.
Impak politik dalam negeri Israel dan AS
Panggilan intens Netanyahu kepada Presiden AS datang di tengah kondisi politik domestik Israel yang tidak stabil setelah pemilu yang menghasilkan parlemen terpecah. Tekanan untuk menunjukkan kedigdayaan keamanan menjadi bagian dari perhitungan politik dalam negeri pemimpin Israel.
Di AS, perkembangan ini berpotensi memengaruhi dinamika politik pasca-pemilihan paruh waktu dan keputusan pembuat kebijakan mengenai campur tangan militer di luar negeri. Para pembuat kebijakan dilaporkan terus menimbang antara opsi diplomasi dan tindakan keras untuk menanggapi ancaman yang dianggap mengancam keamanan regional.
Situasi antara Washington, Yerusalem, dan Teheran tetap dinamis dan dapat berubah cepat, sehingga para pengamat internasional mengimbau agar semua pihak menahan diri dan mengutamakan jalur diplomatik untuk mencegah eskalasi yang tidak terkendali.





