Koalisi PDI Perjuangan: Respon Tegas Atasi Kegelisahan Lulusan SMA

Jakarta, Maret.id — Di Bondowoso, sebuah kabupaten di Jawa Timur, pembicaraan mengenai sulitnya mendapatkan pekerjaan sering kali menghiasi warung kopi dan teras rumah-rumah sederhana. Bagi banyak lulusan SMA di daerah ini, kelulusan tidak selalu menjanjikan masa depan yang lebih baik.
Pekerjaan yang Terbatas
Sejumlah siswa yang baru lulus memilih untuk merantau, membantu orang tua, atau bahkan terjebak dalam ketidakpastian. Terkait hal ini, kader muda Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Bondowoso mulai menunjukkan kepedulian terhadap kondisi ini. Yudha Wahyu Prasetyo, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi DPC PDI Perjuangan Bondowoso, mengemukakan bahwa masalah minimnya lapangan kerja bagi anak muda tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Yudha, yang berusia 26 tahun, menilai fase setelah lulus sekolah merupakan periode yang rawan bagi anak muda. Tanpa adanya aktivitas produktif atau keterampilan tambahan, mereka berisiko terjerumus ke dalam tindakan yang merugikan diri. “Kami berupaya mencari langkah konkret agar para lulusan SMA tidak menganggur dan terjerumus ke masalah yang lebih serius,” ujarnya saat diwawancarai.
Pentingnya Pelatihan Keterampilan
Kekhawatiran Yudha berdasar pada pengamatannya bahwa banyak anak muda di Bondowoso memiliki semangat untuk berkembang. Namun, hambatan dalam akses pelatihan dan peluang kerja seringkali menyurutkan mimpi mereka. Ia mendorong pentingnya pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda, terutama di desa-desa.
“Menghimpun generasi muda pascalulus SMA menjadi kebutuhan untuk memberikan mereka kegiatan yang lebih bermanfaat,” tambahnya. Menurut Yudha, pengangguran di kalangan anak muda tidak hanya menyangkut masalah ekonomi, tetapi juga masa depan sosial masyarakat. Ketika anak muda kehilangan ruang untuk berkembang, perasaan putus asa dan kehilangan arah dapat muncul, yang berpotensi menimbulkan masalah sosial lainnya.
Inovasi dalam UMKM
Kekhawatiran senada juga disampaikan oleh Savinna Artrinita Waninghiyun, kader muda PDI Perjuangan yang kini menjabat sebagai Wakabid Industri, Perdagangan, UMKM, Ekonomi Kreatif, hingga Pemuda dan Olahraga. Di usia 22 tahun, Savinna kerap mendengar keluhan dari anak-anak muda di desa mengenai sulitnya mencari pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Di wilayah saya, isu paling mendesak adalah minimnya lapangan pekerjaan bagi anak muda. Usia produktif seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif,” katanya. Savinna menilai penguatan sektor UMKM di desa dapat menjadi solusi untuk membuka peluang kerja baru. Banyak anak muda yang memiliki potensi kreatif yang belum terwadahi.
Ia berharap, ke depan akan semakin banyak program pelatihan kerja dan pengembangan UMKM yang tepat sasaran dan benar-benar memenuhi kebutuhan generasi muda desa. Dalam suasana tantangan yang dihadapi, keterlibatan generasi muda di partai politik mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Politik yang Terkait dengan Keseharian
Generasi muda kini tidak hanya terdengar berbicara tentang pemilu atau baliho, tetapi juga mengambil langkah konkret mengenai isu-isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka: pekerjaan, keterampilan, hingga masa depan. Di Bondowoso, suara-suara dari kader muda partai mulai mencuat dan berusaha menyuarakan aspirasi generasi sebaya.
Kader muda PDI Perjuangan berusaha untuk menghadirkan politik yang lebih dekat dengan kegelisahan anak muda, yakni tentang bagaimana mereka dapat bertahan, berkembang, dan menemukan arah di tengah minimnya lapangan pekerjaan. Dengan inisiatif ini, diharapkan Bondowoso dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menanggulangi masalah pengangguran di kalangan anak muda.





