Penahanan WNI oleh Militer Israel Memanas Ketegangan Diplomatik dan Risiko Ekonomi!

Jakarta, Maret.id — Sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) 2026 yang ditahan oleh militer Israel telah dibebaskan dan dipulangkan ke Turki sebelum kembali ke Tanah Air pada 24 Mei 2026.
Detensi dan kondisi relawan
Sejumlah saksi dan rekaman lapangan menggambarkan relawan disergap oleh pasukan militer saat berlayar menuju Gaza dan sempat ditahan dalam kondisi tangan terikat dan berlutut.
Salah seorang relawan melaporkan adanya tembakan peluru karet yang mengenai sebagian anggota delegasi sehingga memerlukan pemeriksaan medis di RS Forensik Istanbul.
Kesaksian salah satu delegasi
Andi Angga Prasadewa, salah satu WNI dari rombongan yang diwawancarai oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), menyatakan bahwa intersepsi tersebut bukanlah kegagalan melainkan bukti kekuatan gerakan masyarakat sipil internasional.
Andi mengungkapkan keyakinannya bahwa respons agresif militer Israel mencerminkan ketakutan terhadap kekuatan gerakan sipil yang menyuarakan bantuan kemanusiaan bagi Palestina.
Andi menuturkan bahwa salah seorang rekannya terkena dua kali tembakan peluru karet di bagian pinggang dan punggung sehingga meninggalkan luka mirip luka bakar serta pembengkakan.
Meski dirinya tidak terkena tembakan secara langsung, Andi menyampaikan pengalaman intimidasi yang dialami oleh seluruh delegasi selama proses penahanan di laut.
Pesan dan apresiasi untuk publik
Dalam pernyataannya, Andi mendorong agar partisipasi masyarakat Indonesia dalam gerakan serupa dapat semakin meluas pada pelayaran GSF berikutnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat Indonesia atas doa dan dukungan yang dipanjatkan untuk keselamatan para delegasi selama misi kemanusiaan tersebut.
Para relawan yang terdiri atas aktivis kemanusiaan, perwakilan organisasi sosial, dan jurnalis menjalani pemeriksaan medis lengkap di Istanbul untuk memastikan kondisi kesehatan sebelum keberangkatan kembali ke Indonesia.
Proses pemulangan dilakukan setelah pihak militer Israel menyerahkan mereka ke otoritas Turki pada 21 Mei 2026 waktu setempat.
Daftar warga negara Indonesia yang tergabung dalam delegasi GSF tercatat meliputi beberapa nama berikut.
Herman Budianto Sudarsono (GPCI – Dompet Dhuafa) bertugas pada kapal Zapyro.
Ronggo Wirasanu (GPCI – Dompet Dhuafa) juga tercatat sebagai penumpang kapal Zapyro.
Asad Aras Muhammad (GPCI – Spirit of Aqso) berada di kapal Kasr-1.
Hendro Prasetyo (GPCI – SMART 171) terdaftar di kapal Kasr-1.
Bambang Noroyono, yang berafiliasi dengan Republika, berada di kapal BoraLize.
Thoudy Badai Rifan Billah, jurnalis Republika, tercatat di kapal Ozgurluk.
Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo turut bergerak bersama rombongan di kapal Ozgurluk.
Rahendro Herubowo, yang tergabung dalam tim media GPCI dan iNews, berada di kapal Ozgurluk.
Andi Angga Prasadewa (GPCI – Rumah Zakat) tercatat sebagai penumpang kapal Josef.
Pihak keluarga dan organisasi pendukung menyatakan akan terus memantau kondisi kesehatan para relawan setelah tiba di Indonesia dan memastikan hak-hak medis serta konsuler terpenuhi.
GPCI menyebutkan bahwa pengalaman ini akan menjadi dasar evaluasi dan perencanaan misi berikutnya agar keamanan delegasi dan efektivitas bantuan kemanusiaan dapat ditingkatkan.
Insiden penahanan dan pemulangan delegasi GSF ini kembali menyoroti risiko yang dihadapi aktivis kemanusiaan internasional di wilayah konflik, serta dinamika geopolitik yang memengaruhi upaya bantuan.
Para pengamat menilai dialog diplomatik dan koordinasi lintas negara tetap diperlukan untuk menjamin keselamatan warga negara saat melakukan aksi kemanusiaan di kawasan berisiko tinggi.





