Indonesia Tekankan Ketahanan Air, Waspada Ancaman Mengganggu Perdamaian dan Pembangunan!

Jakarta, Maret.id — Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menegaskan ketahanan air sebagai fondasi stabilitas dan pembangunan dunia dalam pidatonya pada Dushanbe Water Conference 2026 di Tajikistan, Kamis (28/5/2026).
Isu Strategis di Arena Internasional
Nasir mengatakan kompleksitas tantangan global terkait akses air bersih dan pasokan makin meningkat seiring dengan perubahan pola konsumsi dan kebutuhan industri.
Ia menilai tekanan terhadap sumber daya air kini bukan lagi soal lingkungan semata tetapi telah berkembang menjadi isu strategis yang memengaruhi keamanan dan ekonomi.
Air dan Ekonomi Digital
“Wakil Menteri yang akrab disapa Tata menyampaikan, air kini menjadi sumber daya strategis yang juga menopang ekonomi digital global,” demikian kutipan pidatonya di forum tersebut.
Menurut Nasir, pertumbuhan sektor digital dan industri ekstraksi mineral kritis meningkatkan permintaan air sehingga memunculkan tantangan baru dalam pengelolaan sumber daya.
Potensi Konflik dan Kompetisi Global
Nasir mengingatkan sejarah perebutan sumber daya yang dulu berfokus pada minyak dan lahan, dan memperingatkan bahwa ke depan kompetisi global diperkirakan semakin berkaitan dengan penguasaan dan akses terhadap air.
Peringatan ini menekankan pentingnya antisipasi kebijakan yang mampu mencegah eskalasi konflik lintas batas yang dipicu kelangkaan air.
Ketahanan air menurut Nasir tidak dapat dipandang sekadar persoalan teknis atau lingkungan.
Ia menekankan krisis air merupakan tantangan multidimensi yang menyentuh stabilitas sosial, keadilan, dan tata kelola global.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Nasir menyerukan penguatan mekanisme multilateral dan tata kelola internasional yang lebih responsif dan berkeadilan.
Pendekatan kolektif ini, menurutnya, penting agar upaya penanggulangan krisis air tidak hanya bersifat proyek ad-hoc tetapi menjadi bagian dari kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Nasir juga menyoroti pentingnya investasi dalam infrastruktur air, teknologi pengolahan, serta pengelolaan sumber daya berbasis sains dan data.
Langkah-langkah tersebut dinilai krusial untuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak, khususnya di negara-negara berkembang.
Dalam pidatonya, Nasir mengajak negara-negara peserta untuk memperkuat kerja sama antarnegara dalam pengelolaan sungai lintas batas dan cadangan air.
Ia menyampaikan bahwa koordinasi transnasional dapat mengurangi potensi perselisihan sekaligus meningkatkan ketahanan regional terhadap guncangan iklim.
Delegasi Indonesia di Dushanbe turut mempromosikan integrasi ketahanan air ke dalam agenda pembangunan nasional dan regional.
Upaya ini dimaksudkan agar pengelolaan air menjadi bagian integral dari strategi ketahanan pangan, energi, dan ekonomi.
Forum Dushanbe Water Conference 2026 mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintahan, dunia usaha, dan organisasi internasional.
Pertemuan dimaksudkan untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam menghadapi keterbatasan pasokan air yang semakin terasa pada dekade mendatang.
Nasir menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa respons global haruslah adil dan inklusif untuk memastikan tidak ada negara atau komunitas yang tertinggal.
Pernyataan tersebut menjadi panggilan bagi dunia untuk memperlakukan air sebagai barang publik global yang memerlukan tata kelola bersama.





