Dunia

AS Merampas Aset Kripto Iran US$1 Miliar, Memanas Ketegangan Ekonomi dan Sanksi!

Jakarta, Maret.id — Scott Bessent menyatakan Amerika Serikat telah menyita aset mata uang kripto milik Iran senilai sekitar 1 miliar dolar AS. Pernyataan itu juga menyebut adanya upaya koordinasi dengan sekutu-sekutu di Eropa untuk merebut aset-aset lain yang terkait dengan Teheran.

Aset Kripto Senilai Miliaran Disita

Bessent mengatakan nilai aset kripto yang disita mencapai kisaran 1 miliar dolar AS, yang menurut pernyataan tersebut terkait dengan dana yang dialihkan dari rakyat Iran. Ia menggambarkan tindakan penyitaan itu secara gamblang dengan metafora bahwa AS “langsung mengambil dompet mereka”.

Bessent menambahkan ada sejumlah pemegang aset yang tidak menyadari dompet kripto mereka telah dirampas. “Sebagian dari mereka mungkin masih mengetik saat ini, dan sadar kalau mereka tidak sadar dompet mereka sudah diambil,” ujar Bessent, demikian isi kutipan yang beredar.

Koordinasi dengan Sekutu di Eropa

Menurut pernyataan yang sama, upaya penyitaan tidak hanya terbatas pada aset digital tetapi juga properti fisik di beberapa negara Eropa. Bessent menyebut kerja sama dengan mitra Eropa mencakup perampasan vila, rumah, dan properti lain yang diyakini terkait dengan jaringan pendanaan Iran.

Pernyataan itu menegaskan bahwa aset-aset yang disita berasal dari uang yang diklaim “dicuri dari rakyat Iran”. Langkah bersama ini digambarkan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk menekan kemampuan keuangan Teheran.

Blokade Laut dan Dampak Fasilitas Ekspor

Selain soal penyitaan aset, Bessent menyebut fasilitas ekspor minyak Iran di Pulau Kharg dilaporkan berhenti beroperasi akibat blokade laut yang diberlakukan oleh AS. Penutupan fasilitas tersebut dianggap sebagai salah satu tekanan yang menurunkan kemampuan ekspor minyak Iran.

Ia juga menyinggung dinamika diplomasi di Kawasan Teluk, di mana serangan Iran kepada beberapa negara kawasan dianggap berbalik menjadi bumerang. Menurut pernyataan, beberapa negara Teluk malah menjadi mitra yang lebih kooperatif dalam upaya menindak jaringan keuangan yang mendukung Teheran.

Tindakan pembekuan rekening bank juga disebut sebagai instrumen lain yang digunakan AS untuk menekan jaringan pendanaan Iran. Bessent mengatakan pembekuan dapat dilakukan pada rekening bank asal Iran di kawasan-kawasan tertentu untuk membatasi pergerakan dana.

Reaksi internasional terhadap langkah penyitaan dan pembekuan ini diperkirakan akan beragam antara negara yang memandangnya sebagai upaya penegakan sanksi dan negara yang mungkin mengkritik metode tersebut. Dampak ekonomi dan politik jangka menengah terhadap hubungan AS-Iran serta hubungan Iran dengan mitra regional menjadi sorotan utama.

Langkah-langkah terhadap aset kripto menegaskan peran instrumen keuangan digital dalam perimbangan geopolitik modern. Para pengamat menilai tindakan penyitaan aset kripto menandai penggunaan alat non-militer yang semakin intensif dalam rangka menerapkan kebijakan luar negeri.

Pernyataan yang memuat klaim perampasan dan koordinasi internasional ini menambah kompleksitas situasi yang sudah sarat sanksi, ketegangan maritim, dan tekanan diplomatik. Para pihak terkait dan pengamat internasional kini akan memantau perkembangan berikutnya, termasuk respons resmi dari Iran dan tanggapan negara-negara Eropa yang disebut terlibat.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button