Iran Desak IAEA Objektif, Memanas Ketegangan dan Ancaman Sanksi Global!

Jakarta, Maret.id — Iran mendesak Badan Energi Atom Internasional (IAEA) agar bersikap objektif dan tidak mempolitisasi laporan teknis jika ingin menjadi bagian dari solusi diplomatik terkait program nuklir Teheran. Pernyataan itu disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi sebagai respons terhadap laporan dan tindakan badan pengawas nuklir PBB baru-baru ini.
Wakil menteri itu menegaskan bahwa laporan teknis tidak layak diubah menjadi alat tekanan politik terhadap Iran. Gharibabadi menyampaikan kritik tersebut melalui unggahan di platform X pada Sabtu lalu.
Tekanan Politik terhadap Laporan Teknis
Gharibabadi menuduh IAEA tidak hanya melaporkan dampak teknis, tetapi juga menuntut Iran menanggung konsekuensi politik tanpa menunjuk pihak yang dianggap melakukan serangan. Ia menyoroti apa yang disebutnya sikap selektif lembaga dalam menilai insiden yang menyerang fasilitas nuklir Iran.
Dalam keterangannya, Gharibabadi juga menyorot bahwa Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi belum mengecam serangan yang dituduhkan dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran. Pernyataan itu menunjukkan kekecewaan Teheran terhadap kurangnya tindakan eksplisit dari pimpinan badan pengawas internasional.
Rangkaian Serangan dan Eskalasi
Pada 28 Februari lalu, menurut pernyataan Iran, serangan bersama yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel menarget beberapa lokasi di wilayah Iran termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran merespons dengan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan sasaran militer AS di kawasan Timur Tengah.
Pada 7 April, kedua pihak mengumumkan gencatan senjata yang diikuti perundingan lanjutan di Islamabad, namun negosiasi itu berakhir tanpa terobosan. Ketidakmampuan pihak terkait mencapai solusi diplomatik menambah ketegangan dan memperumit peran lembaga internasional seperti IAEA dalam mediasi teknis.
Tuntutan AS dan Klaim Iran
Pada Juni 2025, Amerika Serikat disebut melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dalam operasi yang disebut Operation Midnight Hammer. Serangan ini kemudian menjadi salah satu titik perselisihan utama dalam pembicaraan yang melibatkan negara-negara terkait.
Washington dikabarkan menuntut pemindahan material nuklir dan penolakan ambisi pembuatan senjata nuklir oleh Teheran, tuntutan yang selalu dibantah oleh pemerintah Iran. Klaim dan tuntutan ini menjadi latar yang memperumit upaya verifikasi dan dialog teknis yang menjadi tugas IAEA.
Iran menegaskan bahwa solusi jangka panjang hanya mungkin dicapai melalui dialog diplomatik yang jujur dan netral, sambil meminta lembaga internasional memisahkan penilaian teknis dari tekanan politik. Situasi ini membuka tantangan baru bagi IAEA dalam mempertahankan kredibilitas teknisnya sekaligus mendukung jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan.





