CENTCOM dan IRGC Saling Serang, Memanas dan Mengancam Pasokan Minyak!

Jakarta, Maret.id — Komando Pusat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (United States Central Command/CENTCOM) melancarkan serangan terhadap situs radar pengawasan pantai Iran di Goruk dan Pulau Qeshm pada Sabtu, 6 Juni 2026, setelah mengklaim berhasil mencegah peluncuran beberapa rudal balistik dan serangan drone menuju Selat Hormuz serta negara-negara Teluk.
Rekaman yang dikirim CENTCOM menunjukkan serangkaian ledakan mengenai posisi-posisi yang disebut sebagai instalasi radar, tetapi tanggal pasti dan konteks video tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga. Pernyataan CENTCOM menyebut bahwa tindakan militer itu dilakukan untuk mencegah ancaman lebih lanjut terhadap lalu lintas maritim dan sekutu regional.
Serangan dan klaim CENTCOM
Menurut keterangan resmi CENTCOM, pasukan AS menghentikan empat drone serang satu arah dan mencegah enam dari tujuh rudal balistik yang diluncurkan ke kawasan Teluk, sementara satu rudal dilaporkan gagal mencapai targetnya. Dalam pernyataan yang disebarkan, komando tersebut menegaskan tindakan serangan terhadap situs radar di Goruk dan Qeshm merupakan langkah pembelaan untuk meredam ancaman maritim yang dinilai segera.
CENTCOM menekankan bahwa drone-drone tersebut “menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional” dan bahwa pasukan mereka tetap siaga untuk menanggapi agresi yang dianggap tidak beralasan. Tidak ada laporan langsung tentang korban jiwa di pihak personel AS yang dikeluarkan dalam pernyataan awal, namun pihak militer menyatakan akan terus memantau situasi.
Respons regional dan klaim Iran
Militer Kuwait mengonfirmasi sistem pertahanan udara nasionalnya berhasil mencegat ancaman rudal dan drone pada Sabtu pagi, sementara pejabat AS dan Bahrain menolak klaim Iran bahwa serangan mereka telah merusak markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Pernyataan penolakan itu menegaskan bahwa tidak ada kerusakan signifikan pada fasilitas yang diklaim terkena serangan.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku melancarkan serangan terhadap fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai respons terhadap operasi militer Amerika Serikat sebelumnya. IRGC juga mengklaim telah menembaki empat kapal tanker yang dinilai melewati Selat Hormuz tanpa izin Iran, klaim yang menambah lapisan ketidakpastian atas insiden di perairan strategis itu.
Dinamika diplomasi dan risiko eskalasi
Kondisi yang terjadi di Laut Persia mencerminkan memburuknya hubungan antara Teheran dan Washington meskipun gencatan senjata yang diberlakukan sejak 8 April masih tercatat secara formal, sementara pembicaraan diplomatik antara kedua pihak berlanjut tanpa tercapainya kesepakatan damai. Para diplomat regional dan internasional masih mencari jalan untuk menurunkan ketegangan, namun episode serangan dan klaim balasan memperlihatkan betapa rapuhnya proses tersebut.
Analis mengatakan eskalasi militer di kawasan ini berpotensi mengganggu pasokan energi global dan menimbulkan tekanan baru bagi negara-negara Teluk serta jalur pelayaran internasional. Sementara itu, CENTCOM menegaskan kesiapan untuk merespons ancaman selanjutnya, seraya menyatakan perlunya verifikasi independen atas klaim-klaim yang saling bertentangan.
Situasi ini diperkirakan akan terus dipantau oleh komunitas internasional, dengan tekanan diplomatik yang meningkat agar kedua belah pihak mengedepankan jalur negosiasi. Hingga informasi tambahan diverifikasi, risiko terhadap stabilitas maritim dan keamanan regional tetap tinggi dan menjadi fokus utama pengawasan oleh aktor-aktor terkait.





