Dunia

Belanja senjata nuklir dunia melejit 19 persen, memanaskan ketegangan geopolitik!

Jakarta, Maret.id — Laporan terbaru dari International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) mencatat pengeluaran global untuk persenjataan nuklir mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu.

Rekor Pengeluaran Nuklir

Total pengeluaran dari sembilan negara pemilik senjata nuklir dilaporkan mencapai sekitar US$119 miliar, setara dengan US$3.768 per detik. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sekitar 19 persen dibandingkan dengan pengeluaran pada 2024.

Kesembilan negara yang tercatat dalam laporan ICAN adalah Amerika Serikat, Rusia, China, Prancis, Inggris, India, Pakistan, Korea Utara, dan Israel. Pengelompokan ini mencerminkan negara-negara yang secara terbuka atau diperkirakan memiliki kemampuan senjata nuklir.

Dominasi Pengeluaran Amerika Serikat

Amerika Serikat tercatat sebagai pengeluar terbesar dengan anggaran sekitar US$69,2 miliar untuk program nuklirnya. Jumlah ini dilaporkan lebih besar dibandingkan gabungan pengeluaran seluruh negara nuklir lainnya.

Peningkatan anggaran ini terjadi di tengah tekanan ekonomi global yang masih berat dan tantangan domestik di banyak negara. Kenaikan belanja militer ini memicu perdebatan mengenai prioritas anggaran di tengah kebutuhan publik.

Reaksi dan Kritik

Direktur Program ICAN, Susi Snyder, menilai lonjakan pengeluaran tersebut ironis karena banyak negara menghadapi kenaikan biaya hidup serta kesulitan akses pangan dan energi. Menurutnya, alokasi miliaran dolar untuk persenjataan nuklir tidak sejalan dengan kebutuhan dasar rakyat di masa krisis ekonomi.

Snyder menegaskan bahwa senjata nuklir tidak memberikan jaminan keamanan sejati dan justru menyimpan potensi bencana kemanusiaan jika digunakan. Ia menyoroti bahwa doktrin penangkalan atau deterrence bertumpu pada asumsi berbahaya yang mempertaruhkan keselamatan manusia.

Dampak Kemanusiaan dan Ekonomi

Pengeluaran besar untuk persenjataan nuklir berdampak pada keseimbangan prioritas anggaran negara yang dapat mengurangi ruang fiskal untuk layanan publik. Sektor kesehatan, pendidikan, dan penanganan krisis iklim berisiko tersisih akibat peningkatan anggaran militer.

Selain itu, akumulasi persenjataan nuklir meningkatkan risiko kesalahan perhitungan dan eskalasi konflik yang bisa menimbulkan konsekuensi global. Para aktivis dan sebagian pengamat kebijakan menuntut pertimbangan ulang terhadap investasi jangka panjang yang berisiko tinggi ini.

Tuntutan dan Agenda Ke Depan

ICAN dan organisasi perdamaian lainnya mendesak pengurangan pengeluaran serta langkah nyata menuju pengurangan dan pelucutan senjata nuklir. Mereka menekankan pentingnya diplomasi, transparansi anggaran, dan perjanjian multilateral sebagai jalan keluar untuk menurunkan ancaman nuklir.

Debat tentang prioritas anggaran dan keamanan nasional diperkirakan akan terus mengemuka di forum-forum internasional dan nasional. Pemerintah, parlemen, serta masyarakat sipil di masing-masing negara diharapkan mempertimbangkan implikasi jangka panjang dari prioritas belanja tersebut bagi stabilitas global dan kesejahteraan publik.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button