Uni Emirat Arab mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, Memanas pasokan minyak dunia!

Jakarta, Maret.id — Uni Emirat Arab (UEA) mempercepat program untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz setelah jalur pelayaran strategis itu sempat tertutup dan menimbulkan ketidakpastian lintas regional dan global. Pemerintah UEA menyatakan upaya tersebut bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan pasokan energi dan keamanan jalur ekspor negara itu.
Target Ketergantungan Nol
Menteri Negara Perdagangan Luar Negeri Uni Emirat Arab, Thani Al Zeyoudi, menyampaikan bahwa negara itu menargetkan “ketergantungan nol” pada Selat Hormuz sebagai jalur utama ekspor energi. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran kebijakan yang menempatkan diversifikasi rute pengiriman dan infrastruktur sebagai prioritas nasional.
Pembangunan Infrastruktur Pelabuhan dan Jaringan Energi
Rencana UEA mencakup perluasan besar-besaran pelabuhan timur seperti Dibba Timur, Fujairah, dan Khor Fakkan yang berada di pantai Teluk Oman dan berada di luar Selat Hormuz. Selain perluasan pelabuhan, pemerintah juga merencanakan pembangunan setidaknya satu pelabuhan baru, jaringan pipa tambahan, konektivitas kereta api, serta jalan raya untuk menghubungkan fasilitas pelabuhan dengan ladang minyak dan pabrik pemrosesan.
UEA saat ini sudah menggunakan pipa dengan kapasitas sekitar 1,5 juta barel per hari untuk mengalirkan minyak mentah ke Fujairah sebagai upaya sebagian menghindari lintasan Selat Hormuz. Pemerintah mengumumkan percepatan pembangunan pipa kedua yang diproyeksikan dapat meningkatkan kapasitas ekspor melalui Fujairah pada 2027.
Alternatif Energi dan Tantangan Logistik
Selain pipa kedua, otoritas UEA tengah mempelajari opsi pipa ketiga dan infrastruktur pendukung untuk mendukung ekspor produk petrokimia, LNG, dan produk energi lain. Pemerintah juga mengevaluasi solusi logistik terpadu agar volume ekspor tidak terganggu selama transisi, termasuk cadangan, terminal penyimpanan, dan fasilitas pemrosesan tambahan.
Meski demikian, pengalihan rute tidak serta-merta mudah untuk semua komoditas karena memindahkan aliran LNG, aluminium, dan barang industri dari pelabuhan Teluk memerlukan penanganan dan infrastruktur yang jauh lebih kompleks dibandingkan minyak mentah. Tantangan teknis dan investasi besar menjadi faktor yang harus diatasi dalam jangka menengah.
Implikasi bagi Pasar Global dan Keamanan Regional
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur penting yang melintasi sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair global sebelum gangguan belakangan ini. Ketidakpastian akses ke selat tersebut telah menimbulkan kekhawatiran pasar energi internasional dan mendorong beberapa negara untuk mencari jalur alternatif.
Langkah UEA untuk mendiversifikasi rute menunjukkan bagaimana negara-negara produsen utama merespons dinamika geopolitik dan kebutuhan untuk menjaga arus pasokan stabil. Selain manfaat ekonomi, strategi ini dipandang sebagai upaya untuk memperkecil risiko politik dan militer yang dapat mempengaruhi ekspor energi.
UEA menegaskan bahwa transformasi infrastruktur ini akan berjalan dengan pendekatan bertahap dan terukur. Pemerintah menyatakan komitmen untuk memastikan bahwa peningkatan kapasitas dan konektivitas pelabuhan serta pipa akan sejalan dengan kebutuhan pasar global dan standar keselamatan transportasi energi.





