Iran Tegaskan Ekspor Minyak Bisa Dibayar Semua Mata Uang, Memanas Pasar Energi!

Jakarta, Maret.id — Mantan gubernur bank sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, menyatakan Iran memiliki fleksibilitas penuh untuk menerima pembayaran hasil ekspor minyak dalam berbagai mata uang tanpa harus bergantung pada dolar Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan melalui sebuah video yang dibagikan oleh Kepala Kantor Informasi Pemerintah Iran, Ali Ahmadnia.
Pernyataan tentang mekanisme pembayaran
Hemmati menegaskan Iran tidak terikat pada satu mata uang tertentu dalam transaksi minyaknya dan dapat memilih mekanisme pembayaran sesuai kebutuhan ekonomi negara. Ia juga menyebut negara berhak menentukan mekanisme pengiriman minyak dan sistem pembayaran yang dianggap paling efisien.
Hemmati menolak klaim bahwa dana yang dicairkan harus diarahkan pada pembelian produk tertentu dari Amerika Serikat. Ia menambahkan Iran siap membeli produk impor jika barang tersebut dinilai kompetitif secara pasar, namun tidak akan terikat kewajiban politik dalam transaksi ekonomi.
Isu aset dan potensi pelonggaran sanksi
Pembicaraan terbaru juga menyentuh soal laporan terkait pencairan aset Iran senilai 12 miliar dolar AS dan kemungkinan pelonggaran sanksi ekspor minyak. Hemmati menyatakan bahwa isu aset dan sanksi tersebut diperlakukan berdasarkan negosiasi yang mempertimbangkan kepentingan nasional Iran.
Pernyataan ini datang di tengah perhatian internasional terhadap upaya-tegangan antara Iran dan beberapa negara mengenai kebijakan energi dan perdagangan. Pemerintah Iran menunjukkan pendekatan pragmatis dengan menekankan kepentingan ekonomi dalam menentukan langkah kebijakan.
Negosiasi dengan Oman mengenai Selat Hormuz
Di samping isu keuangan, Iran dan Oman mulai membahas kemungkinan penerapan skema biaya di perairan strategis Selat Hormuz. Diskusi meliputi opsi-opsi struktural seperti perbedaan antara tarif resmi dan biaya layanan terkait keamanan serta alasan lingkungan.
Kedua negara sepakat membentuk kelompok kerja bersama untuk mengkaji mekanisme tersebut lebih lanjut dan menilai implikasinya terhadap lalu lintas maritim internasional. Langkah ini dinilai sebagai upaya awal untuk membangun rezim maritim yang mengatur layanan dan tanggung jawab di wilayah tersebut.
Hemmati menyebut pembentukan kelompok kerja sebagai bagian dari langkah diplomasi ekonomi bilateral yang lebih luas. Dengan adanya kajian teknis, Tehran dan Muscat berharap dapat merumuskan aturan bersama tanpa mengganggu kebebasan navigasi internasional.
Implikasi regional dan respons internasional
Pembentukan rezim maritim baru di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi strategi pelayaran dan keamanan regional yang selama ini diawasi oleh berbagai aktor internasional. Negara-negara pengguna jalur perdagangan ini kemungkinan akan memantau perkembangan dan menilai dampaknya terhadap biaya dan keamanan pengapalan.
Sementara itu, sinyal fleksibilitas Iran dalam menerima pembayaran non-dolar dipandang sebagai respons atas tekanan sanksi dan upaya diversifikasi risiko ekonomi. Para analis menilai langkah ini mencerminkan strategi jangka panjang untuk memperkuat kedaulatan fiskal dan mengurangi ketergantungan pada satu mata uang asing.
Hemmati menutup pernyataan dengan menegaskan bahwa setiap keputusan tentang mekanisme pembayaran dan kebijakan maritim akan diambil berdasarkan kajian teknis dan kepentingan nasional. Pemerintah Iran, menurutnya, akan mengutamakan solusi yang memperkuat stabilitas ekonomi dan keamanan wilayah.





