Singapura membangun pusat AI, memanas persaingan AS

Jakarta, Maret.id — Komite Peninjauan Strategi Ekonomi (Economic Strategy Review/ESR) merekomendasikan Singapura menahan diri dari perlombaan membangun pusat data terbesar atau memelihara model kecerdasan buatan (AI) yang paling masif, dan sebaliknya memosisikan negara itu sebagai pusat global pengembangan serta penerapan solusi AI yang bersifat praktis dan berdampak.
Rekomendasi Strategis ESR
Laporan akhir ESR yang dirilis pada Rabu, 24 Juni 2026, menyatakan AI memiliki potensi mengubah lanskap ekonomi dunia secara radikal, sebanding dengan revolusi listrik dan internet di masa lalu. Komite menilai kekuatan Singapura bukan pada skala infrastruktur fisik semata, melainkan pada kemampuannya menyatukan pemerintahan, dunia usaha, dan lembaga riset untuk membangun ekosistem inovasi yang kondusif.
ESR menekankan fokus pada kualitas dan efektivitas penggunaan teknologi ketimbang mengejar angka kapasitas terbesar. Strategi yang diusulkan menempatkan Singapura sebagai lokasi preferensi untuk menguji dan menyebarluaskan solusi AI yang mampu memberikan manfaat nyata bagi industri dan masyarakat.
Prioritas Infrastruktur dan Regulasi
Untuk mewujudkan visi tersebut, komite merekomendasikan tiga akses krusial yang perlu dipermudah: kumpulan data berkualitas, daya komputasi yang memadai, serta lingkungan uji coba regulasi (regulatory sandbox) yang adaptif disertai penguatan tata kelola dan sistem keamanan AI. Akses “karpet merah” terhadap sumber daya ini dinilai penting agar inovator dapat mengembangkan solusi yang aman, dapat diandalkan, dan sesuai aturan.
Selain itu, ESR mengingatkan bahwa tata kelola dan standar keamanan harus berjalan seiring dengan percepatan adopsi teknologi. Langkah ini dianggap penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus mengurangi risiko yang muncul dari penggunaan AI secara luas.
Pemberdayaan Perusahaan dan UMKM
Komite juga mengusulkan program transformasi AI berskala besar untuk mendorong perusahaan-perusahaan unggulan di Singapura menjadi “AI Champions” yang bisa menjadi cetak biru bagi sektor masing-masing. Inisiatif ini bertujuan tidak hanya mengangkat beberapa pemain besar tetapi juga mendorong transfer teknologi dan praktik terbaik ke pelaku industri lainnya.
ESR menyoroti pentingnya pemerataan adopsi teknologi dengan dukungan lebih masif bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menghadapi keterbatasan biaya dan kapasitas operasional. Peran asosiasi perdagangan dan kamar dagang diharapkan meningkat untuk menggalang sumber daya kolektif dan mengembangkan solusi AI bersama yang dapat meningkatkan produktivitas lintas sektor.
Langkah Pemerintah dan Fokus Sektor
Sebagai konkretisasi komitmen terhadap strategi ini, pemerintah Singapura membentuk Dewan AI Nasional yang diberi mandat mengarahkan pemanfaatan teknologi di sektor-sektor strategis. Dewan tersebut akan berfokus pada empat bidang prioritas yakni manufaktur canggih, jasa keuangan, layanan kesehatan, dan logistik.
Langkah pemerintah ini diharapkan mempercepat integrasi solusi AI yang relevan dengan kebutuhan nasional sekaligus memperkuat koordinasi antara pembuat kebijakan, pelaku industri, dan komunitas riset. Dengan pendekatan yang terukur dan kolaboratif, ESR menilai Singapura berpeluang menjadi pusat global untuk inovasi AI yang bernilai ekonomi tinggi dan berorientasi pada implementasi praktis.





