AS Serang Iran, Memanas dan Picu Lonjakan Harga Minyak Global!

Jakarta, Maret.id — Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah sasaran di wilayah Iran pada Jumat, 26 Juni 2026, menuduh Teheran melanggar perjanjian pendahuluan perdamaian yang diteken pada 17 Juni lalu. Operasi tersebut menargetkan lokasi rudal, fasilitas penyimpanan drone, dan instalasi radar, menurut pernyataan militer AS.
Rincian serangan dan alasan AS
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan udara itu merupakan respons atas serangan drone terhadap kapal komersial berbendera Singapura, M/V Ever Lovely, yang terjadi sehari sebelumnya di Selat Hormuz. Dalam pernyataannya di platform X, CENTCOM menegaskan bahwa “agresi yang tidak beralasan terhadap pelayaran komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata.”
Laporan dari wilayah terkena dampak
Media Iran melaporkan terdengarnya ledakan di sekitar Pulau Sirik, provinsi Hormozgan bagian selatan, dan sejumlah sumber lokal menyebut dua proyektil mengenai menara telekomunikasi di kawasan itu. Pihak militer Iran mengatakan sebelumnya telah melepaskan tembakan peringatan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “kapal-kapal yang melanggar aturan” di perairan Selat Hormuz.
Klaim tanggung jawab dan pernyataan Iran
Hingga kini Iran belum mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal Ever Lovely, namun pejabat Teheran menegaskan bahwa hanya Iran dan Oman yang berhak menentukan administrasi dan layanan maritim di Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menulis di akun X bahwa “keamanan perjalanan melalui Selat Hormuz tidak dapat dijamin di bawah pengaturan yang ambigu, rute paralel, atau pengambilan keputusan yang tidak mempertimbangkan peran Iran sebagai negara pantai.”
Ketegangan di tengah proses implementasi nota kesepahaman
Insiden ini muncul pada saat sensitif, ketika kedua pihak masih mendiskusikan implementasi nota kesepahaman yang diteken pekan sebelumnya, dan sudah terjadi perbedaan penafsiran mengenai beberapa pasal kunci. Perselisihan itu meliputi pengelolaan Selat Hormuz, nasib persediaan uranium yang diperkaya Iran, serta dampak operasi militer aktor lain di kawasan seperti Lebanon.
Risiko bagi pelayaran komersial dan ekonomi regional
Serangan terhadap kapal komersial dan tindakan militer di jalur perairan strategis seperti Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan bagi rute perdagangan global dan pasokan energi. Para pelaku industri pelayaran dan perusahaan asuransi diperkirakan akan meningkatkan kewaspadaan, sementara pemilik kapal mencari rute dan langkah mitigasi untuk mengurangi paparan terhadap ancaman militer.
Reaksi internasional dan prospek diplomasi
Komunitas internasional diminta memantau perkembangan secara seksama dan mendorong upaya de-eskalasi melalui jalur diplomatik untuk mencegah meluasnya konfrontasi. Sumber diplomatik menyatakan bahwa keberhasilan implementasi nota kesepahaman akan sangat bergantung pada tercapainya kesepakatan teknis mengenai pengelolaan pelayaran dan mekanisme verifikasi yang dapat diterima kedua belah pihak.
Insiden pekan ini menegaskan betapa rapuhnya kondisi keamanan maritim di kawasan Teluk dan urgensi adanya aturan yang jelas terkait patroli, komunikasi, dan tanggung jawab negara pantai. Dampak jangka pendek dari konfrontasi ini kemungkinan masih akan dirasakan pada operasi pelayaran dan dialog politik di tingkat regional.





