Aktivis bakar diri tuntut China keluar dari Tibet, memanas hubungan diplomatik!

Jakarta, Maret.id — Seorang pria melakukan aksi bakar diri di depan markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York setelah menancapkan bendera yang terkait dengan pemerintahan Tibet dalam pengasingan pada Kamis (2/7/2026) waktu setempat.
Detik-detik kejadian
Aksi itu berlangsung di persimpangan East 43rd Street dan First Avenue, kawasan sekitar kompleks PBB, dan terekam oleh kamera pengawas yang berada di lokasi. Dalam rekaman yang beredar terlihat pelaku menancapkan bendera di trotoar sebelum menyalakan api pada tubuhnya.
Kondisi korban dan respons medis
Petugas darurat segera memberi penanganan di tempat dan korban kemudian dilarikan dalam kondisi kritis ke Rumah Sakit Bellevue untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Tidak ada konfirmasi resmi mengenai identitas pelaku atau motif lengkapnya saat korban masih menjalani perawatan intensif.
Bukti dan tuntutan di lokasi
Di sekitar lokasi kejadian ditemukan sejumlah selebaran yang memuat tuntutan agar “China keluar dari Tibet”, menurut keterangan petugas yang mengamankan tempat kejadian. Bendera yang ditancapkan oleh pelaku diketahui berkaitan dengan gerakan pro-Tibet yang merujuk pada pemberontakan 1959 terhadap pemerintahan pusat di Tiongkok.
Penyelidikan kepolisian
Polisi New York langsung membuka penyelidikan untuk mengungkap kronologi, motif, dan kemungkinan unsur lain terkait tindakan itu, termasuk pemeriksaan video pengawasan dan barang bukti di lokasi. Petugas mencatat bahwa bendera yang dipasang pelaku sempat berkibar di trotoar hingga sekitar satu jam setelah insiden sebelum diamankan.
Konteks historis
Tibet sejak 1951 berada di bawah kendali Republik Rakyat Tiongkok setelah peristiwa yang oleh Beijing disebut sebagai “pembebasan damai”, sementara sebagian pihak internasional menilai masalah status politik Tibet sebagai isu yang kompleks dan sensitif. Gelombang protes dan unjuk rasa terkait isu Tibet, termasuk aksi bunuh diri dan bakar diri oleh beberapa individu, telah terjadi dalam beberapa dekade terakhir sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan Beijing di wilayah itu.
Dampak dan perkembangan
Kawasan sekitar PBB sempat ditutup dan lalu lintas dialihkan sementara untuk memberi ruang bagi proses evakuasi dan penyelidikan kepolisian, serta menjamin keselamatan publik di lokasi. Hingga perkembangan lebih lanjut diumumkan, otoritas setempat terus mengumpulkan saksi dan mengkaji materi bukti untuk menentukan langkah penegakan hukum berikutnya.
Peristiwa ini kembali menyorot sensitivitas isu Tibet dalam kancah internasional dan menimbulkan pertanyaan tentang metode protes ekstrem yang dipilih beberapa aktivis. Pihak rumah sakit dan kepolisian dijadwalkan memberikan keterangan resmi setelah kondisi korban dan hasil penyelidikan lebih jelas.





