Merger Paramount

Jakarta, Maret.id — California bersama 11 negara bagian Amerika Serikat resmi mengajukan gugatan federal untuk menggagalkan rencana akuisisi Paramount Skydance Corporation terhadap Warner Bros. Discovery (WBD). Gugatan itu dilayangkan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara California dengan alasan potensi pelanggaran undang-undang antimonopoli yang dapat merusak persaingan di pasar hiburan.
Isi Gugatan dan Kekhawatiran Negara Bagian
Para jaksa agung menilai penyatuan kedua perusahaan media besar ini berisiko menciptakan dominasi pasar yang merugikan konsumen serta pelaku industri lain. Menurut penggugat, penggabungan itu berpotensi menaikkan harga, menurunkan kualitas serta mengurangi ragam konten yang tersedia bagi penonton.
Jaksa Agung California Rob Bonta menyatakan pihaknya berjuang untuk menjaga pasar yang bebas dan adil serta mencegah manipulasi. Ia memperingatkan dampak langsung bagi bioskop, distributor kabel, dan konsumen apabila merger tetap berjalan.
Rinciannya: Pangsa Pasar dan Indeks Konsentrasi
Rencana akuisisi muncul setelah Paramount menyetujui pembelian saham WBD pada Februari 2026 dengan harga 31 dolar AS per lembar, yang menilai ekuitas WBD sebesar 81 miliar dolar AS dan nilai perusahaan mencapai 110 miliar dolar AS. Berkas gugatan menyebutkan tiga pasar yang dinilai terancam: distribusi film layar lebar berskala luas, distribusi film yang diproyeksikan menjadi box office, serta lisensi saluran televisi kabel dasar.
Negara-negara bagian memperkirakan entitas gabungan akan menguasai sekitar 27 persen pasar film rilis luas, lebih dari 30 persen untuk film terlaris, serta sekitar 27 persen pendapatan dari lisensi televisi kabel dasar. Perhitungan Indeks Herfindahl-Hirschman (HHI) memprediksi lonjakan konsentrasi sebesar 359 poin menjadi 2.074, yang menurut regulasi federal sudah masuk kategori berpotensi mematikan kompetisi.
Dampak terhadap Bioskop dan Industri Kabel
Selama ini Paramount dan WBD menjadi rival yang bernegosiasi terpisah dengan pemilik bioskop terkait pembagian hasil tiket, penentuan tanggal rilis, dan kuota layar. Kekhawatiran muncul bahwa hilangnya salah satu studio independen akan memberi entitas gabungan daya tawar berlebih sehingga mengurangi produksi dan variasi film.
Di ranah televisi kabel, penggugat menyoroti kepemilikan saluran populer oleh kedua pihak seperti CNN, TNT, TBS, Nickelodeon, MTV, Comedy Central, HGTV, dan Food Network. Jika digabung, distributor kabel yang menolak kenaikan tarif berisiko kehilangan hak siar sejumlah saluran besar sekaligus.
Tanggapan Paramount dan Keputusan DOJ
Paramount membela rencananya dengan menyatakan peningkatan skala diperlukan untuk bersaing dengan platform streaming global dan perusahaan teknologi yang menguasai distribusi konten saat ini. Perusahaan mengklaim potensi efisiensi biaya hingga 6 miliar dolar AS per tahun, janji penguatan layanan streaming, serta komitmen merilis minimal 30 film bioskop per tahun melalui kedua studio.
Namun, negara-negara bagian menilai komitmen tersebut tidak cukup menjamin keberlanjutan kompetisi yang sehat sebagaimana ketika kedua perusahaan berdiri terpisah. Gugatan ini muncul setelah Departemen Kehakiman AS menutup penyelidikan selama delapan bulan pada Juni tanpa mengajukan keberatan, setelah menelaah lebih dari dua juta dokumen dan menyimpulkan tidak ada potensi kerusakan kompetisi pada sektor tertentu.
Proses hukum di pengadilan diperkirakan akan menjadi arena utama berikutnya untuk mempertimbangkan bukti, argumen ekonomi, dan dampak kebijakan publik. Keputusan pengadilan distrik dapat memicu banding dan potensi keterlibatan regulator lain, sehingga nasib merger akan bergantung pada penilaian hukum terhadap bukti persaingan dan janji-janji yang diajukan pihak penggabungan.





