Hamas menunjuk Khalil Al

Jakarta, Maret.id — Hamas pada Senin (20/7/2026) secara internal memilih Khalil Al-Hayya sebagai pemimpin baru menggantikan Yahya Sinwar yang tewas, sebuah langkah yang terjadi di tengah eskalasi konflik dan tekanan internasional terhadap kelompok bersenjata itu. Pengumuman pengangkatan Al-Hayya menandai babak baru dalam dinamika kepemimpinan Hamas yang selama dua tahun terakhir berubah cepat akibat pembunuhan beberapa tokoh senior dan perang yang berkepanjangan.
Pemilihan dan dinamika internal
Proses pemilihan berlangsung di tengah keterbatasan karena konflik yang merembet ke sejumlah kawasan regional, namun akhirnya diikuti oleh dewan pilih beranggotakan sekitar 50 wakil. Dewan tersebut mencakup perwakilan dari Gaza, Tepi Barat termasuk anggota yang berada di penjara, serta pemimpin Hamas yang berada di pengasingan.
Calon yang bersaing kuat termasuk Khaled Meshaal, mantan kepala biro politik dan figur sentral sayap eksternal Hamas, namun Al-Hayya muncul sebagai pilihan mayoritas. Pemungutan suara yang dimulai sejak Januari sempat tertunda karena peristiwa di Iran, Lebanon, dan operasi militer di Gaza.
Profil Khalil Al-Hayya
Khalil Al-Hayya lahir di Gaza pada 1960 dan menjadi anggota pendiri Hamas sejak 1987, dengan karier yang berkembang dari kepemimpinan lokal hingga posisi negosiator kunci. Selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai kepala negosiator gencatan senjata serta figur penting dalam upaya pertukaran tahanan antara Hamas dan pihak lain.
Al-Hayya pernah menjabat sebagai kepala sayap Hamas di Gaza saat berada dalam pengasingan dan memiliki hubungan erat dengan jaringan regional yang sering disebut Poros Perlawanan. Beberapa anggota keluarganya menjadi korban dalam serangan yang ditujukan kepadanya pada masa lalu, termasuk insiden pada 2007 yang menewaskan istri dan tiga anaknya menurut catatan kronologis peristiwa.
Tantangan strategis dan situasi di Gaza
Kepemimpinan baru ini menghadapi kondisi yang sangat sulit karena Gaza masih diliputi krisis kemanusiaan dan militer sejak serangan 7 Oktober yang memicu gelombang konflik baru-baru ini. Sejumlah tokoh Hamas telah tewas pada periode tersebut sehingga mendorong pembentukan dewan kepemimpinan sementara sebelum pemilihan sekarang.
Selama periode gencatan senjata yang berlangsung ratusan hari, kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran hampir setiap hari, sementara korban sipil dan militer terus bertambah. Otoritas di Gaza melaporkan jumlah korban jiwa dan luka dalam rentetan serangan yang berkepanjangan, sedangkan Hamas juga disebut melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan eksekusi internal dalam beberapa kasus.
Tekanan internasional untuk melucuti senjata terhadap Hamas meningkat, sementara berbagai proposal gencatan senjata yang juga berbicara soal penarikan pasukan dan pembentukan otoritas pemerintahan sementara di Gaza terus bergulir di forum internasional. Kondisi ini menempatkan kepemimpinan baru pada pilihan sulit antara tuntutan domestik untuk mempertahankan garis keras dan keinginan komunitas internasional untuk stabilitas.
Reaksi regional
Beberapa kelompok regional menyambut pengangkatan Al-Hayya sebagai bukti kelangsungan struktur organisasi Hamas meskipun didera serangkaian serangan dan hilangnya tokoh-tokoh senior. Pernyataan solidaritas dari aktor-aktor non-negara di kawasan mencerminkan pola aliansi yang selama ini mengelilingi Hamas.
Namun, pengangkatan ini juga diperkirakan akan dipantau ketat oleh negara-negara yang terlibat dalam upaya mediasi dan pihak-pihak yang menuntut demiliterisasi di Gaza. Para analis menilai bahwa posisi Al-Hayya yang dianggap lebih keras dari beberapa figur eksternal bisa memperumit upaya diplomatik yang tengah berlangsung.
Kepemimpinan baru akan diuji oleh kebutuhan untuk mengonsolidasikan kelompok yang terfragmentasi, merespons tekanan militer dan diplomatik, serta menghadapi tantangan kemanusiaan yang semakin akut di kawasan. Perkembangan selanjutnya pada lini diplomatik dan militer diperkirakan akan menentukan arah kebijakan Hamas di bulan-bulan mendatang.





