Sebut Trump Berbohong, Iran Bantah Minta AS Tunda Serangan Militer, Ketegangan Memanas!

Jakarta, Maret.id — Iran secara tegas membantah klaim yang menyebut bahwa Teheran meminta Washington untuk membatalkan atau menunda rencana serangan militer terhadap wilayahnya.
Penolakan Langsung dari Militer Iran
Kantor berita Iran Mehr melaporkan pada Minggu (2/8/2026) bahwa sumber-sumber militer dalam negeri menyebut pernyataan yang dilontarkan lewat media sosial tersebut sebagai “kebohongan baru”.
Pernyataan resmi dari angkatan bersenjata Iran menilai narasi yang disebarkan pihak lawan hanya merupakan bentuk keputusasaan politik dan propaganda.
Kesiagaan Militer Iran
Teheran menegaskan seluruh angkatan bersenjata tidak mengendurkan pertahanan dan tetap berada pada tingkat kesiapan tertinggi.
Pesan itu menegaskan kesiapan Iran untuk menghadapi berbagai skenario konfrontasi, termasuk kemungkinan eskalasi militer di wilayah Teluk.
Pernyataan Donald Trump di Truth Social
Perseteruan narasi muncul setelah Donald Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social yang menyatakan ia telah menyetujui penundaan serangan udara besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran.
Dalam unggahannya, Trump menulis bahwa Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya sempat meminta Washington untuk menahan diri dari serangan karena batasan-batasan kesepakatan telah disetujui.
Trump juga menyampaikan ancaman bahwa pembatalan operasi militer bergantung pada kepatuhan Iran untuk segera meresmikan poin-poin perjanjian yang diajukan oleh pihak Washington.
Klaim itu kemudian diperdebatkan secara keras setelah kabar bantahan resmi dari Teheran terbit, sehingga prospek kesepakatan menjadi kian tidak pasti.
Reaksi terhadap Klaim dan Dampak Regional
Pihak militer Iran menuduh klaim penundaan tersebut sebagai trik sekaligus upaya propaganda untuk menekan negara-negara di kawasan Teluk.
Situasi ini berisiko meningkatkan ketidakpastian bagi negara-negara tetangga yang sudah berada di bawah tekanan geopolitik dan ekonomi.
Ketidakcocokan narasi antara Washington dan Teheran berpotensi memicu salah tafsir dan menambah risiko gesekan militer yang lebih luas.
Para pengamat menyatakan perlunya verifikasi independen atas klaim kedua belah pihak agar eskalasi tidak terjadi karena miskomunikasi atau informasi yang tidak terkonfirmasi.
Perkembangan klaim dan sanggahan ini menjadi indikator penting bagi dinamika diplomasi dan keamanan kawasan dalam beberapa hari mendatang.
Langkah-langkah lanjutan dari kedua belah pihak, serta reaksi negara-negara Teluk dan pemain internasional lainnya, akan menentukan arah ketegangan yang sedang berlangsung.





