Iran Sebut Trump Skizofrenia, Memanas Hubungan AS

Jakarta, Maret.id — Unggahan peta di akun media sosial Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mencantumkan Selat Hormuz sebagai salah satu “wilayah AS” baru memicu kecaman keras dari pejabat Iran dan meningkatkan ketegangan diplomatik di kawasan Teluk Persia.
Pada Kamis, 27 Agustus 2026, Trump memposting gambar bertajuk “Wilayah AS” yang mencantumkan lokasi seperti Puerto Rico, Guam, Northern Mariana Islands, Virgin Islands, Wake Island, dan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah baru yang diklaim Amerika Serikat.
Reaksi keras dari pejabat Iran
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum Internasional, Kazem Gharibabadi, menanggapi unggahan itu dengan serangan politik yang tajam dan menyebut klaim tersebut sebagai tanda “delusi” dan gangguan psikiatris.
Gharibabadi menyatakan bahwa skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang memengaruhi persepsi realitas dan berpikir, serta menegaskan bahwa orang dengan gejala tersebut membutuhkan pengawasan dan perawatan intensif, menurut pernyataannya yang beredar di platform X pada akhir Agustus 2026.
Klaim berulang soal kendali Selat Hormuz
Ini bukan pertama kali pejabat Washington menyampaikan pernyataan tegas mengenai Selat Hormuz; beberapa pernyataan sebelumnya dari lingkaran Gedung Putih menyiratkan kesiapan mempertahankan atau bahkan menguasai jalur laut strategis tersebut.
Di pihak Iran, tokoh keamanan dan politik—termasuk mantan komandan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Mohsen Rezaei—secara konsisten menolak klaim semacam itu dan bahkan menyindir bahwa klaim AS lebih jauh dari kenyataan dibandingkan jarak sekitar 7.000 mil yang memisahkan Tehran dan Washington.
Dampak pada lalu lintas maritim dan respons Tehran
Meski perseteruan retorika meningkat, lalu lintas harian melalui Selat Hormuz dilaporkan menurun drastis sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, berkisar belasan kapal per hari dibandingkan sekitar 130 kapal per hari sebelum eskalasi.
Washington disebut-sebut menarik diri dari rencana serangan besar setelah muncul laporan soal keterbatasan rudal jarak jauh dan rudal pencegat, klaim yang kemudian dibantah oleh Presiden AS melalui saluran resmi, sementara fokus bergeser ke tekanan ekonomi untuk mengisolasi Iran secara finansial.
Respons diplomatik dan pernyataan tokoh Iran
Diplomat senior Iran Abbas Araghchi menyebut ancaman militer semacam itu sebagai retorika yang berulang dan tidak baru, menyatakan bahwa ancaman tersebut merupakan “omong kosong yang sudah sering terlihat” dan menggambarkannya sebagai skenario lama dengan “penindas yang berbeda”.
Teheran terus menegaskan kendali wilayahnya di perairan Teluk Persia, sambil memperingatkan bahwa setiap upaya untuk mengubah status quo melalui klaim sepihak atau tekanan militer akan mendapat respons yang tegas dari Iran.
Ketegangan atas klaim kedaulatan atas jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz ini menambah kompleksitas situasi keamanan regional, dengan potensi dampak luas pada perdagangan energi global dan kestabilan politik di kawasan Teluk Persia.





